Thursday, May 4, 2017

Berkomunikasi Visual dengan Media Fotografi



Berkomunikasi Visual dengan Media Fotografi
Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.


Jaman dahulu foto begitu penting dan “mahal”, karena foto-foto sejarah adalah momen yang terekam dan bisa dijadikan bukti yang abadi. Fotografi pada jaman dahulu merupakan ilmu dan kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, namun seiring berkembangnya jaman dan teknologi dunia fotografi mulai dikenal oleh semua kalangan. Teknologi tersebut terus mengalami perkembangan, khususnya teknologi kamera untuk keperluan fotografi yang sudah beralih ke penggunaan kamera digital. Penggunaan  kamera digital yang praktis tidak lagi membuat pemotret kehilangan banyak momen-momen yang tepat karena keterbatasan jumlah frame, bahkan kemampuan kamera saku digital dan smartphone sekalipun bisa mendapatkan hasil foto sebagus hasil fotografer profesional.
Di sisi lain, maraknya media internet dengan berbagai macam variasinya, ada satu hal yang fenomenal yaitu media sosial yang bisa mengakomodasi foto sebagai media berita, dokumentasi, bisnis, hingga bahan perbincangan interaksi online. Kehadiran media sosial lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan informasi, ini juga digunakan sebagai hiburan atau pengisi waktu luang. Menurut Baudrillard, fungsi utama objek-objek konsumer bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya, melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai-tanda atau nilai-simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media. Menurutnya, dalam masyarakat sistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan, namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan, prestise, status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan. Dan kebenaran itu bisa dilihat pada fenomena media sosial.
Fenomena lain yang dapat dilihat adalah banyaknya yang memasang PP (Photo Profile) atau upload foto-foto saat bergaya seperti sedang di lokasi wisata atau restoran mahal, sedang membawa hewan piaraan yang langka, sedang menyetir, sedang didepan mobil, sedang pose memegang kamera SLR yang harganya mahal, dan banyak pose lainnya yang menunjukkan prestise mereka. Fenomena itu menyebabkan pengguna lainnya ikut-ikutan supaya tidak dianggap kalah saingan dan agar dianggap gaul seperti yang lainnya. Pandangan ini semakin berkembang di era yang semakin modern dimana media sosial tidak lagi dijadikan sebagai alat komunikasi sebagai fungsi utama, namun hanya menjadi nilai simbol dimana siapapun ingin menunjukkan prestise yang tinggi yang mereka miliki melalui barang yang mereka gunakan lewat foto yang ditampilkan.
Penggunaan media sosial hanya sebagai simbol dari kemajuan dunia yang semakin modern, dan masyarakatnya pun tidak ingin ketinggalan jaman jika tidak mempunyai akun media sosial, seperti; Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, dll. Hal ini tidak akan terjadi jika masyarakat tidak mengenal teknologi sebelumnya dan fenomena ini semakin mendukung pernyataan Baudrillard yang menyatakan bahwa era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya makna serta citra oleh perkembangan teknologi dan media massa.

Fotografi sebagai Media Komunikasi Visual        
Sebagai seorang fotografer dituntut harus bisa dan mampu bekerja dengan teknik dan peralatan kerja yang dimilikinya secermat mungkin dan dibutuhkan ketekunan, ketelitian, usaha dan kerja keras bagi seorang entreupreneur untuk bisa menguasai teknik dan estetika fotografi. Pengalaman yang akan mengajarkannya bagaimana bekerja dengan kamera digital yang efektif, bagaimana menghadapi berbagai kondisi pemotretan, termasuk kondisi lingkungan dan cahaya yang kurang menguntungkan, hingga bagaimana berkomunikasi dengan orang lain dalam hal pekerjaannya.
Salah satu kelebihan fotografi adalah mampu merekam peristiwa yang aktual, dapat dipercaya, dan dapat membentuk sebuah citra di dalamnya. Sehingga fotografi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang dapat digunakan sebagai bahan publisitas sebuah informasi atau membangun komunikasi yang bermanfaat.
Berkomunikasi dan berinteraksi antar manusia semakin dimudahkan dengan adanya teknologi canggih. Komunikasi yang digunakan juga beragam baik dengan menggunakan komunikasi interpersonal maupun dengan menggunakan komunikasi massa melalui media fotografi. Dalam proses komunikasi, diharapkan seseorang dapat mengetahui kondisi atau situasi, tempat, dan lain sebagainya agar pesan yang akan disampaikan dari foto tersebut dapat diterima dengan baik.
Aplikasi dalam berkomunikasi visual melalui foto ini bisa beragam; yaitu dari kegiatan bisnis, tukar-menukar informasi, meningkatkan branding produk, menawarkan jasa, hingga kegiatan komunikasi sehari-hari seperti chating, menunjukkan sesuatu ke orang lain, dan masih banyak hal lainnya yang bisa dilakukan menggunakan media foto.

Komunikasi Dalam Foto Jurnalistik
Fotografi merupakan media utama terutama media cetak untuk berkomunikasi menyampaikan pesan atau berita secara visual, karena memang keunggulan fotografi adalah obyek akan terekam secara jelas dan nyata terhadap obyek berita. Namun dengan perkembangan teknologi fotografi telah mengalami kemajuan yang pesat, terutama didalam teknologi digital yang sebelumnya melewati masa yang panjang sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 21 masih menggunakan media film. Dengan menggunakan film pemotretan obyek dalam fotografi akan merekam sesuai apa adanya tanpa rekayasa. Namun dengan masuknya era digitalisasi, fotografi telah memasuki ranah komputerisasi, dimana data foto akan terekam secara digital, terproses secara cepat, dan tepat, namun rawan akan keaslian dan kemurnian obyek foto tersebut.
Karena dengan kecanggihan teknologi pengolah gambar foto yang beredar sekarang memungkinkan foto yang ada adalah sudah hasil olahan sang fotografernya. Sedangkan foto yang merupakan informasi berita seharusnya adalah gambaran asli dari kejadian yang direkam pada suatu tempat dan waktu tertentu. Masalahnya, jurnalistik selalu berhubungan dengan berita yang tertulis atau proses penyampaian pesan kepada khalayak. Jurnalistik adalah tindakan diseminasi informasi, opini dan hiburan untuk publik yang sistematik dan dapat dipercaya kebenarannya melalui media komunikasi massa modern (Roland E. Wolesely dan Laurence R. Campbell, 1949, A.Muis : 24). Sehingga foto jurnalistik yang baik dan berhasil akan selalu dapat menjawab siapa, apa, kapan dan bagaimana suatu kejadian berlangsung dan foto yang merekam suatu berita tersebut, biasanya terpasang di media cetak seperti koran atau majalah.
Namun ada yang menjadi filter terhadap hasil pemotretan wartawan foto adalah dewan redaksi yang menentukan layak tidaknya sebuah foto ditayangkan. Disinilah berita-berita bisa muncul dengan foto yang kurang tepat dan termanipulasi. Kejujuran wartawan foto adalah yang paling menentukan, untuk tidak mencoba memanipulasi gambar yang berujung akan mengubah fakta. Pada dasarnya mengedit foto walau cuma sedikitpun akan mengubah fakta, misalnya sebuah moment foto bersama pada sebuah acara, tidak boleh dimanipulasi dengan menambahkan orang yang kebetulan tidak ikut foto, walaupun memang benar orang tersebut ada di acara itu. Untuk itu wartawan foto dan redaktur media sangat menentukan keaslian dari foto yang ada tersebut.
Foto yang baik adalah yang bisa membuat seseorang yang melihatnya merasa berada di dalam kejadian pada foto tersebut. Ada pepatah satu foto berati seribu kata, sehingga tanpa harus banyak bercerita lewat kata, foto sudah mewakili sebuah fakta tertentu. Oleh karena itu, dengan adanya Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, sudah selayaknya wartawan foto diberi kepercayaan kebebasan dalam mengeksplorasi foto berita tanpa meninggalkan etika.

Berkomunikasi dengan Karya Seni Foto
Selain untuk media rekam, fotografi juga bisa sebagai media ekspresi seni. Seni baru bisa mempunyai makna atau dapat diresapkan jika pada dirinya terkandung kekuatan pesan yang komunikatif dan seni yang tidak komunikatif sama sekali tidak bisa dikatakan indah. Dari pernyataan ini bisa dikatakan bahwa seni adalah media penyampaian pesan dari seniman kepada orang lain dengan tujuan mempengaruhi pikirannya. Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Thomas Munro, fotografi dapat dimasukkan sebagai cabang seni rupa (visual Art), seni yang hanya bisa dirasakan melalui indera penglihatan manusia. Jadi seni fotografi bisa dikatakan sebagai kegiatan penyampaian pesan secara visual dari pengalama yang dimiliki seniman / fotografer kepada orang lain dengan tujuan orang lain mengikuti jalan pikirannya. Supaya tercapai proses penyampaian pesan ini maka harus melalui beberapa persyaratan komunikasi yang baik, yaitu konsep AIDA (Attention–Interest-Desire-Action) atau Perhatian – Ketertarikan – Keinginan – Tindakan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi lewat sebuah foto seni. Pertama adalah imajinasi fotografer, Foto sebagai media ekspresi seni membutuhkan imajinasi dari fotografer. Pada penyajian akhir, dengan melihat sebuah foto seni tentunya penikmat foto juga akan berimajinasi tentang bagaimana suasana dalam foto tersebut, misalnya tentang keadaan, perasaan yang muncul dari orang, dan situasi dalam foto tersebut. Kemudian foto yang menyampaikan pesan dengan baik adalah foto yang dapat membuat orang yang menikmatinya bisa ikut berimajinasi. Persepsi tentang foto seni bisa berbeda, sehingga perlulah presentasi atau paparan konsep seni dari fotografer pada penyajian foto, sehingga maksud dan arti foto tersebut bisa dikomunikasikan dengan audiens.
Kedua adalah pengalaman dan perasaan fotografer yang sering mempengaruhi baik buruknya pesan dari sebuah foto, karena kebanyakan fotografer yang memiliki perasaan dan pengalaman tertentu dalam membuat karya foto yang memiliki sebuah pesan tertentu. Ketiga adalah bagaimana memahami karya foto tersebut. Untuk berkomunikasi lewat foto, diperlukan pemahaman yang kuat, karena pemahaman satu orang dengan orang lain ada yang berbeda. Foto yang dibuat lebih baik mudah untuk dipahami oleh semua kalangan, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Kemudian yang terakhir dan yang terpenting adalah sebuah ide/gagasan. Ide merupakan inti pokok dari sebuah pesan yang terkandung dalam foto. Untuk berkomunikasi lewat foto, pertama-tama menentukan ide tentang pesan apa yang ingin disampaikan. Tentunya ide yang bagus akan mempengaruhi juga pesan dari sebuah foto. Sebaliknya, ide yang kurang baik dalam pesan sebuah foto akan sulit dimengerti oleh orang yang melihat foto.

Fotografi sebagai Budaya Visual
Penyajian visual berperan besar pada pembentukan opini publik, dan di situ fotografer menjadi salah satu penanggung jawab utamanya. Oleh karena itu para fotografer jurnalistik maupun fotografer seni pernah meyakini bahwa fotografi dapat berperan dan bertanggung jawab dalam pembentukan masyarakat yang ideal.  Menurut David Ogilvy (pengamat dunia iklan), sejak awal tahun 1940-an menyatakan bahwa untuk memengaruhi masyarakat, lebih baik menggunakan satu foto daripada seribu sketsa gambar tangan.
Foto memiliki daya pengaruh yang begitu besar dalam pembentukan opini masyarakat sehingga siapapun yang menyandang kamera dan menghadirkannya tengah memengaruhi pandangan masyarakat pemirsanya. Karena itu pemirsa pun harus sadar bahwa setiap sajian punya tujuan dan acuan tertentu yang bisa saja telah mengalami pergeseran jauh dari maksud fotografer atau pencipta fotonya. Diperlukan suatu wawasan untuk mengerti, suatu sikap yang kritis melihat dan memahami bahwa foto yang hadir bukanlah satu wujud yang berdiri utuh sendiri. Ia merupakan bangun realitas baru dari kerja seorang fotografer yang memang merekam sesuatu yang ada. Realistis namun dalam batasannya. (dari berbagai sumber)
Salam kreatif

Monday, February 6, 2017

Memahami Color Mode dan Color Space Pada Hasil Foto Digital



Memahami Color Mode dan Color Space Pada Hasil Foto Digital

 Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.


Pada dunia fotografi modern yang serba canggih dan serba berwarna warni, menuntut fotografer memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki atau dikuasai oleh orang kebanyakan. Mulai dari rumitnya masalah teknis pemotretan hingga pemahaman warna yang dihasilkan oleh kamera hingga hasil karya outputnya. Tapi pada era modern saat ini atau sering disebut era digital bisa dikatakan lebih mudah karena fotografi bisa dinikmati dan dilakukan oleh semua orang. Namun perlu di perhatikan semakin mudahnya penguasaan terhadap kamera semakin besar pula tuntutan untuk menciptakan sebuah seni fotografi yang berkualitas, unik, dan berbeda.
Warna adalah sebagian dasar dari fotografi, banyak faktor yang berpengaruh pada foto warna. Pada saat dinikmati, sebuah karya foto harus dilihat sebagai sebuah kesatuan, tapi sebetulnya di dalam karya tersebut banyak elemen yang dikomposisikan dan setiap elemen ini mempunyai peran sendiri-sendiri. Seorang fotografer yang baik harus dapat memahami karakteristik dari setiap elemen yang ada dan mengerti apa yang akan dilakukan terhadap hasil foto tersebut setelah proses pemotretan selesai. Apakah foto itu akan melalui tahap editing atau langsung di cetak. Jika harus melalui tahap editing, maka elemen apa saja dalam foto tersebut yang harus di proses untuk penyempurnaan. Pada akhirnya semua elemen itu harus dapat terlihat sebagai kesatuan yang membentuk sebuah karya fotografi yang bisa dinikmati.
Karena kita berhubungan dengan fotografi dan software editornya hampir setiap hari, maka kita juga pasti mengakrabi salah beberapa elemen penting ini di dalamnya. Untuk dapat memahami elemen-elemen tersebut maka akan dibahas beberapa elemen yang merupakan faktor yang akan mempengaruhi warna dalam sebuah karya fotografi. Faktor - faktor ini pasti selalu ada pada setiap foto warna digital, karena segala sesuatu yang mempunyai warna pasti mempunyai tingkat hue, saturation, dan lightness.
Hue adalah apa yang biasanya kita sebut sebagai ‘warna’ dalam bahasa sehari-hari. Untuk pelukis, istilah ‘hue’ berarti kombinasi dari warna-warna dasar; dengan kata lain, merah, hijau, biru atau kuning (RGB). Sementara fotografer biasanya membayangkan hue sebagai satu warna tertentu.
Saturation menunjukkan intensitas dari hue. Warna-warna dasar yang terang adalah warna dengan saturation tinggi, sementara warna-warna pastel saturation-nya rendah. Monochrome (hitam dan putih) seluruhnya tidak memiliki saturation karena tidak punya intensitas warna di dalamnya. Pada karya foto saturasi yang berlebihan akan menghasilkan gambar dengan warna yang tidak alami, sedangkan desaturasi secara total akan menghasilkan foto yang hanya memiliki daerah terang dan gelap (hitam putih).
Lightness yang juga sering disebut juga sebagai ‘value’ atau ‘tone’ berhubungan dengan tajam atau tidaknya sebuah warna, atau tingkat hitam atau putih pada skala warna. Sebuah warna dengan value yang rendah berarti lebih dekat dengan hitam, sementara yang memiliki value tinggi lebih dekat dengan putih.
Berikut diagram penggambaran detail tentang hue, saturation, dan lightness.
(Sumber gambar: http://www.drmoron.org )
Ketiga elemen di atas sebenarnya sudah sangat familiar bagi para editing foto. Namun untuk mengakomodasi elemen-elemen diatas, dunia fotografi digital yang didukung oleh teknologi editing foto digital ada sesuatu yang perlu dipahami oleh fotografer, yaitu tentang Color Mode dan Color Space (Color Profile). Pemahaman akan perbedaan kedua hal ini sebenarnya merupakan hal yang sangat mendasar dalam fotografi dengan foto editing. 

Color Mode dan Color Space
 Pemahaman tentang perbedaan Color Mode dan Color Space (Color Profile) dulunya memang tidak terlalu dibutuhkan, tapi seiring kebutuhan jika sering melakukan scan foto atau memotret sendiri, lalu mengedit nya untuk kemudian di cetak. Proses scan/memotret, edit dan cetak ini membutuhkan konsistensi pemilihan Color Mode dan Color Space agar pada hasil akhir nanti warna yang didapat sesuai dengan harapan. Pada artikel kali ini dicoba untuk menggali pemahaman tentang Color Mode dan Color Space berdasarkan software editing foto yang standard.
Color Mode
Color mode merupakan salah satu hal utama yang membedakan antara gambar digital dan gambar analog, maksudnya gambar digital dibentuk oleh cahaya maka gambar analog terbentuk dari tinta. Dasar pemahaman inilah yang menjadi landasan dari Color Mode. Cahaya yang yang merupakan warna additive membentuk gambar digital terdiri dari 3 warna yaitu Red, Green dan Blue (RGB), sedangkan tinta (warna subtractive) membentuk gambar analog terdiri dari 4 warna yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black (CMYK). Tapi pada saat sebuah gambar CMYK ditampilkan dilayar monitor, sesungguhnya gambar tersebut ditampilkan dalam mode RGB, karena semua monitor menampilkan gambar dari cahaya.
Color Space (Color Profile)
Color Space adalah rentang jangkauan warna, sedangkan Color Profile adalah metode penyimpanan rentang warna tersebut secara digital. Dalam penerapannya keduanya dilabeli nama yang sama, yaitu: Adobe RGB Color Space. Ada banyak Color Space yang dikenal, namun hanya beberapa jenis Color Space yang mungkin paling sering kita gunakan, yaitu ProPhoto RGB, Adobe RGB, sRGB, dan lain-lain. Namun pada kamera digital sekarang, biasanya tersedia menu untuk memilih color space yang diinginkan fotografer, yaitu sRGB dan Adobe RGB, keduanya bisa digunakan, tapi ada perbedaan diantara keduanya  yang harus diperhatikan.

Berikut di bawah ini gambaran grafik color space yang menunjukkan luas warna yang bisa dicapai dari masing-masing color space.
 Color Space sRGB

 Color Space Adobe RGB

 Color Space ProPhoto RGB
 Perbandingan Color Space
(Sumber Gambar: http://fotografidesain.com )

Kemudian Color Space mana yang baik digunakan tergantung dari kebiasaan alur kerja fotografer. Berikutnya pertimbangan color space apa yang sesuai dengan gaya bekerja atau kebutuhan fotografer.
·    Adobe RGB atau ProPhoto RGB apabila fotografer yang selalu menggunakan format RAW karena menginginkan citra digital dengan kualitas data yang maksimal dari kamera. Kemudian harus didukung monitor yang support dengan AdobeRGB atau ProPhotoRGB. Selain itu seting color profile di aplikasi post processing juga disesuaikan dengan color space pilihan. Tapi tentunya jika output foto hanya untuk ditampilkan di web/internet jangan lupa convert color space ke sRGB karena mayoritas web browser didunia ini hanya mampu menampilkan gambar dengan color space sRGB saja.
·     sRGB. Apabila sebagian besar karya foto Anda selalu berakhir di web/internet. Atau apabila Anda tidak mau dipusingkan dengan proses konversi dan ingin spektrum warna yang konsisten dari awal sampai akhir. Tentu informasi warna yang Anda miliki tidak sebanyak Color Space yang lain, tapi faktanya adalah foto-foto bagus yang Anda lihat di Flickr, 500px, 1x dll sebagian masih menggunakan sRGB.
Color Space sRGB dan Adobe RGB tidak berpengaruh pada format RAW, karena memang tujuan memakai RAW merekam lebih banyak data dan informasi dari foto yang diambil, oleh karena itu file foto RAW cukup besar size-nya, dan tidak semua OS computer bisa langsung membukanya. Sebenarnya tujuan utama memakai file RAW adalah agar masih bisa edit banyak hal seperti White Balance, pasang filter ND dll.

Mencetak Foto
Perlu diketahui, color space Adobe RGB memang mampu menyimpan warna warni lebih banyak dari sRGB, tapi bukan berarti gambar lebih bagus dengan warna yang lebih banyak, tapi jika untuk dicetak menggunakan printer atau alat cetak dalam skala besar, gambar yang muncul diubah sepenuhnya ke color space lain, yaitu CMYK (Cyan, Magenta, Yellow and Black) yang bahkan lebih kecil dari sRGB. Jadi penting sekali memiliki sebanyak mungkin warna pada proses editing foto/gambar sebelum color space diubah untuk reproduksi CMYK (dicetak). Sehingga pada hasil cetakan warna akan terihat semaksimal mungkin.
Begitu juga dengan color space sRGB biasanya digunakan oleh gambar yang akan di serahkan ke lab foto untuk di cetak dalam berbagai ukuran, dan printer  yang digunakan oleh lab foto  sendiri adalah perangkat sRGB. Jika sama sekali tidak memahami akan banyak kekurangan dalam memproduksinya, bahkan kemungkinan mesin tidak dilengkapi fitur mengenal file RGB dan operator mesin akan mengolah gambar ke file sRGB secara manual sebelum ia mencetak. Internet  juga perangkat sRGB, foto yang di pasang pada web seharusnya sRGB  kalau tidak ingin gambarnya kurang baik atau warnanya sedikit tidak layak. Kecuali  menggunakan monitor pilihan yang dibuat khusus untuk color space sRGB. Intinya adalah tidak ada masalah dengan sRGB color space, jika tujuan mengambil foto hanya untuk sekedar memajangnya pada wall (monitor atau LCD) dan tidak untuk dicetak, maka gunakan color space sRGB.

Konsep Konversi Warna untuk Cetak
Pada mode warna (color mode), ada warna-warna yang ada di CMYK yang tidak bisa direpresentasi RGB dengan akurat, misalnya warna yellow 100%, cyan 100% dan magenta 100%. Sebaliknya ada cukup banyak warna-warna RGB yang tidak akan pernah ditampilkan dengan akurat misalnya ungu, hijau menyala, dll. CMYK adalah model warna tinta dan warna-warnanya tergantung pada pigment pada tinta & substrate yang dicetak. Sedangkan RGB adalah model warna cahaya yang dipakai untuk “input devices” seperti scanner maupun “output devices” seperti display monitor, dan warna-warnanya tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti; scanner, kamera digital, dan monitor.
Pada kebanyakan Printer yang berkualitas baik untuk mencetak foto, baik itu inkJet Printer, Color Laser, ataupun Fujicolor Lab atau Kodak System Lab, secara umum akan mencetak dengan Color profile sRGB. Sedangkan Printer seperti Large Format Printer, Color Laser Printer dan InkJet dengan 4 warna atau lebih dapat dirubah format file-nya dapat menggunakan Adobe RGB maupun sRGB, akan tetapi sangat disarankan untuk mencetak pada color profile sRGB.
Kemudian pada saat membuka file foto terkadang ada notifikasi: "Do You Want to Use Embedded Profile?" Apakah anda akan menggunakan profile yang melekat pada file tersebut ? Ya / Tidak. Notifikasi tersebut akan muncul jika pada Photoshop sudah disetting dengan Color Profile yang berbeda dengan file foto. Misal setting pada Photoshop color profilenya adalah Adobe RGB sedangkan file fotonya menggunakan sRGB, maka akan ditanya apakah menggunkan color profile yang sesuai dengan file foto ataukah file tersebut akan dirubah color profilenya sesuai dengan yang digunakan oleh setting pada Photoshop. Jika ingin mencetak foto pada kertas Photo atau InkJet Photo Paper, disarankan menyamakan color profile pada Photoshop dan color profile pada printer, dan yang terbaik adalah menggunakan sRGB.
Jika mencetak file berprofile Adobe RGB (yang memiliki rentang saturasi warna lebih luas) pada printer yang berprofile sRGB, maka hasil print out akan nampak seolah olah lebih gelap, dimana yang merah akan nampak lebih merah, yang biru akan nampak lebih biru (printer Color Laser). Jika dicetak pada printer inkJet 6 warna atau cetak di Photo Lab, warna justru akan memudar atau istilahnya adalah washed out karena printer jenis ini akan mencoba mengkoreksi kelebihan saturasi pada profile Adobe RGB.
Demikian semoga bermanfaat, salam kreatif.
(dari berbagai sumber)