Thursday, December 1, 2016

Mencetak Foto pada Era Smartphone



Mencetak Foto pada Era Smartphone

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

Fotografi dengan smartphone atau mobile photography telah menjadi gaya hidup. Semakin baiknya kualitas kamera smartphone dan semakin terjangkaunya harga kamera digital membuat aktivitas fotografi kini menjadi milik semua orang. Pada sisi yang lain, maraknya jejaring sosial maupun situs photo-sharing mengubah kebiasaan bagaimana sebuah foto dinikmati. Tanpa harus melalui proses cetak, momen foto yang diambil dapat langsung diunggah ke jejaring sosial untuk dinikmati oleh teman, saudara, sahabat, friend list, hingga follower.
Kemudian timbul pertanyaan besar seiring perkembangan tersebut, dan pertanyaan ini pun sering muncul ditengah teknologi itu: Masih relevankan mencetak foto di era digital? Jawabnya tentu masih relevan, terbukti dengan masih banyak gerai cetak foto beroperasi. Bahkan, kertas foto yang dijual di toko alat tulis pun tetap ada. Ini membuktikan bahwa cetak foto masih eksis dan digemari oleh masyarakat. Meski, jumlahnya saat ini memang berkurang dengan semakin majunya teknologi penyimpanan digital.
Menurut Merry Harun (Canon Division Director PT Datascrip), saat ini budaya mencetak foto dianggap tidak praktis. Apalagi ditambah dengan media sosial yang sudah membumi sehingga banyak album foto online. Tapi, perlu diingat data yang kita simpan bisa saja hilang tanpa kita sadari. Dari sinilah perlu untuk menyelamatkan momen berharga, paling tidak dengan mencetaknya sebelum kehilangan file yang kita punya.

Berikut ada beberapa keuntungan dari mencetak foto yang perlu diketahui, yaitu:

1. Merasakan emosi visual dan tekstur bahan
Orang cenderung senang menyentuh wujud sebuah barang, dan sensasi ini yang tidak dapat digantikan oleh peran digital. Sama seperti foto, insting pertama saat melihat foto yang menggugah, adalah menyentuhnya. Perasaan dan emosi kita dapat tersalurkan dalam sentuhan tersebut, walaupun sadar sebenarnya itu hanya sebuah permukaan kertas namun dengan memegangnya akan menjadi lebih berarti.

2. Tampilan warna tinta lebih bersahabat untuk mata daripada LCD
Di era digital, terbiasa melihat foto dalam berbagai macam ukuran, dari Layar smarphone yang sempit hinngga layar monitor yang luas. Namun keterbatasan teknologi penyajiannya adalah dengan cahaya (RGB color) yang tidak nyaman di mata karena cahaya langsung menyinari mata. Ini membuat orang tidak berlama-lama menikmati sebuah foto di layar monitor. Tapi saat mencetaknya, akan memberikan ruang dan waktu untuk mengamati foto lebih baik. Media cetak tidak mengeluarkan cahaya yang tegak lurus ke mata, namun bisa lebih soft dengan cahaya ruangan (dari atas) yang menerangi cetakan hingga terlihat mata.

3. Menyelamatkan momen berharga
Banyak kasus, orang lebih banyak kehilangan foto pada memori hardisk dibanding foto cetakan yang tersimpan pada album foto. Hal itu terjadi karena kebiasaan orang jarang melakukan backup foto sehingga saat ponsel rusak atau hilang, demikian juga nasib foto-foto tersebut. Bisa juga saat setelah melakukan backup, kemudian menyimpan ke CD/DVD, memory card, atau hadrdisk, namun kemudian hari rusak/eror. Berbeda dengan foto-foto yang sudah dicetak, walaupun mungkin tidak rapi menyimpannya masih bisa menemukannya di lain waktu. Itu karena jarang ada seseorang membuang sebuah foto, kecuali foto yang membuat/menyimpan kenangan sedih.

Kualitas Foto dari Smartphone
Kualitas foto untuk dicetak secara umum telah saya bahas pada artikel sebelumnya. Banyak parameter-parameter yang menentukan kualitas foto digital agar tampil maksimal khususnya pada saat dicetak. Pada kesempatan ini khusus dibahas tentang bagaimana hasil foto dari smartphone dan cara mengontrol lebih jauh kualitasnya agar dapat dicetak secara baik.
Pada dasarnya mobile photography (dengan smartphone) menawarkan konsep kepraktisan saat memotret. Sebelumnya, fotografi juga bisa dilakukan pada telepon seluler biasa yang berfitur kamera. Hanya saja, keterbatasan kemampuan telepon seluler membuat hasil foto masih terbatas, dari masalah lensa, mode pemotretan, besarnya sensor (megapixel), dan sensitivitasnya terhadap cahaya. Belum lagi tidak didukung system dari perangkat telepon seluler tersebut yang tidak support.
Di era smartphone terkini, segala keraguan tersebut mulai sirna dengan beragam smartphone dengan spesifikasi fotografi juga menjadi pertimbangan seseorang dalam membeli gadget tersebut. Semakin lama produsen smartphone semakin berlomba menghadirkan fitur-fitur fotografi yang lebih modern dan canggih.
Kemudian, dewasa ini fotografi banyak digeluti oleh masyarakat baik sebagai hobby maupun mata pencaharian untuk mengabadikan gambar real ke dalam sebuah kertas. Dimana gambar yang diharapkan sama persis dengan aslinya namun dalam ukuran yang bervariasi. Kadang-kadang mencetak foto bisa jadi sangat mengecewakan saat kita mendapat hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Ketika kita melihat foto-foto yang akan dicetak di layar smartphone, foto tampak sempurna. Tapi saat sudah dicetak, warnanya meleset, ada bagian yang terpotong, kontras tidak tepat, dan sebagainya. Bahkan tempat percetakan foto tentu punya pengaturan sendiri pada laboratoriumnya saat mencetak, dan jelas tidak sama dengan setingan smarphone yang ada. Inilah yang menimbulkan masalah.
Pada dasarnya kamera smartphone dengan ukuran 8MP bisa saja menghasilkan foto lebih baik dari kamera 12MP. Karena parameter bagus tidaknya foto tidak hanya tentang megapixel. Hal-hal lain tersebut adalah:

1. Lensa Kamera
Hal utama yang mempengaruhi hasil foto adalah kualitas lensa kamera. Kualitas lensa kamera mempengaruhi kejernihan kualitas foto dan bagaimana cahaya dapat masuk dan sampai pada sensor kamera. Karena itu perlu diperhatikan juga kualitas lensa yang digunakan pada kamera smartphone. Sering terjadi, kamera yang mempunyai megapixel besar tidak didukung oleh lensa kamera yang baik. Dan keterbatasan lensa kamera smartphone adalah ukuran lensa tidak sebesar kamera pocket atau kamera SLR. Lensa kamera smarphone rata2 hanya berdiameter 1 cm, bahkan lebih kecil lagi.

2. Sensor Kamera
Sensor yang lebih besar berarti mampu mengambil lebih banyak cahaya, menghasilkan warna yang lebih akurat, foto lebih jernih karena lebih sedikit noise serta dynamic range (ratio antara pencahayaan paling terang dengan kegelapan paling gelap) juga lebih luas. Selain itu, sensor yang lebih besar berfungsi lebih baik pada saat keadaan sedikit cahaya (low light). Besar sensor kamera tersebut tentunya dipengaruhi oleh ukuran pixel. Ukuran pixel pada sebuah sensor kamera juga merupakan hal yang menentukan hasil dari foto, ukuran pixel yang lebih besar akan lebih memaksimalkan kinerja sensor kamera, sehingga menghasilkan foto yang bagus. Sebagai perbandingan, Ukuran fisik panjang sensor kamera SLR rata2 berukuran kurang lebih 2 cm, sedangkan sensor pada kamera smartphone hanya beberapa milimeter saja.

3. Image Processing
Hal yang juga mempengaruhi kualitas kamera smartphone yaitu image processing. Image processing merupakan proses pengolahan hasil foto saat sesudah foto ditangkap. Image processing berbeda-beda pada setiap smartphone, karena hal tersebut ditentukan oleh pemrograman alogaritma serta firmware pada smartphone itu sendiri, termasuk besarnya memory yang memengaruhi kecepatan kinerjanya.

Mengatur dan Mengolah Foto untuk Dicetak
Hal yang tidak kalah penting dalam mencetak foto dari kamera smartphone adalah bagaimana mengatur, mengolah, mengirim file foto yang telah tersimpan untuk bisa dicetak dengan baik. Teknologi komunikasi dewasa ini sudah sangat maju dan terus berkembang pesat, banyak sekali fasilitas komunikasi yang bisa digunakan. Memindahkan file foto dari memory hard-drive kamera dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik hanya sekedar memindahkan ke komputer hingga mengirimnya ke teman atau kolega secara online. Hal ini sering kurang diperhatikan oleh para pengguna teknologi tersebut khususnya tentang kualitas file/data, apakah kualitasnya masih terjaga baik sesuai yang diharapkan atau tidak.
Pertama, dalam memindahkan file ke hardisk komputer atau external hardisk hendaknya menggunakan peralatan yang baik, misalnya kabel data yang baik atau menggunakan card reader yang baik. Selain itu ada teknologi nirkabel yang bisa digunakan, misalnya bluetooth dan wireless. Namun semua itu harus selalu dicek/dipastikan bahwa file foto tidak berkurang kualitasnya, dalam hal ini bisa dilihat dari besarnya file foto. Cara gampang memastikannya adalah melihat besar megabyte file foto yang telah di-copy harus sama dengan aslinya di drive kamera.
Kedua, dalam mengirim file secara online, begitu banyak cara bisa digunakan untuk mengirim data melalui internet atau jaringan telekomunikasi lainnya. Dulu ada fasilitas MMS (multi media message), e-mail, sampai yang paling mutakir adalah cloud server dan inilah cara paling standar untuk tukar-menukar file foto via internet. Cloud server ada beberapa yang bisa digunakan seperti; Drop Box, Drive Google, One Drive, dan sebagainya yang memungkinkan mengirim file dengan megabyte besar.
Kemudian ada juga fasilitas yang disediakan oleh media komunikasi dan media sosial berbasis internet yang sedang marak belakangan ini, misalnya: BBM, WhatsApp (WA), LINE, Telegram, dan sebagainya. Dan media sosial seperti; Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya. Hampir semua media komunikasi dan media sosial memungkinkan untuk menampilkan gambar/foto, sehingga banyak digunakan orang untuk tukar-menukar foto. Namun perlu diketahui, tidak semua media-media tersebut bisa digunakan untuk mengirim foto dengan kualitas yang baik. Ada banyak media sosial yang menyederhanakan foto yang diunggah pengguna dengan alasan agar foto lebih cepat diakses, sehingga kualitas foto jelas turun.
Pada proses tersebut itulah seringkali pengguna media sosial/media komunikasi kurang memperhatikan kualitas foto saat mengirim/upload ke jaringan media sosial tersebut. Seharusnya jika memang tujuannya untuk dicetak, pengguna media sosial bisa menggunakan fasilitas khusus yang disediakan, misalnya pada Facebook, ada fasilitas attach file untuk Messanger. Seperti halnya Twitter dan LINE, ada fasilitas attach foto untuk mengirimkan foto dengan kualitas baik. Namun tentunya pengguna harus selalu melakukan cross-chek terhadap file yang dikirim/diterima, apakah sesuai dengan kualitas yang diinginkan, dan hal yang paling gampang dilakukan adalah memastikan dengan melihat besar megabyte file foto yang telah dikirim/diterima harus sama dengan aslinya di drive kamera.
Dalam dunia cetak jelas ada hal dasar yang agak berbeda dengan dunia online (internet) dimana kualitas foto harus maksimal disesuaikan standar cetak. Seperti resolusi gambar yang tinggi akan menghasilkan foto yang lebih bagus, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan agar hasil foto menjadi maksimal.
Demikian sedikit berbagi pengetahuan tentang bagaimana menangani foto dari kamera smartphone untuk kepentingan cetak. Semoga semakin semangat dalam berkarya foto dan dapat lebih bisa mengontrol foto/desainnya sehingga bisa mencapai hasil maksimal. Tentunya butuh waktu untuk mengetahui semua tentang media dan teknologi cetak, tapi dengan tips-tips di atas diharapkan lebih bisa menikmati teknologi yang ada dan terus belajar tentang sesuatu yang baru. 

Salam Kreatif

Wednesday, July 13, 2016

Desainer Grafis Sang Perancang



Desainer Grafis Sang Perancang bukan Pemasang

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.





Perkembangan teknologi selalu seperti pedang bermata dua, selain mempermudah juga sekaligus membuat susah. Seperti halnya di dunia desain grafis, fasilitas open source, free software, free fonts, stock photo, image bank, hingga berbagai varian design template tersedia dengan lengkap dan siap diunduh secara gratis. Maka dunia maya bagi industri desain grafis dengan sendirinya menjelma menjadi surga era rekayasa digital. Dunia industri kreatif sendiri sejauh ini bersikap oportunis, para penggiat desain grafis banyak yang memanfaatkan kemudahan tersebut dan sering lupa kompetensi dirinya sebagai kreator.

Desain Grafis (Graphic Design), mempunyai lingkup kerja di area Seni Terapan (Applied Art) dan sering disebut juga Commercial Art karena orientasinya kebutuhan seninya sering untuk kepentingan bisnis. Pada awalnya pekerjaan Desain Grafis dikerjakan oleh para Seniman yang memiliki kemampuan komunikasi, estetika, dan craftmanship yang luar baik di dalam mengolah elemen-elemen visual. Kebutuhan estetika untuk kepentingan bisnis terus meledak seiring kemajuan jaman dan teknologi, sehingga peran seniman tersebut semakin dibutuhkan.

Peranan Desain Grafis pada era revolusi industri maupun era-era selanjutnya tak terbantahkan lagi dan menjadi suatu bagian mata rantai yang dibutuhkan untuk menggerakan roda perekonomian. Gert Dumbar seorang Desainer Grafis asal Belanda kelahiran Indonesia memperkenalkan istilah Desain Komunikasi Visual pada tahun 1977 setelah lulus dari Royal College of Art di London. Menurut Dumbar, desain grafis tidak hanya berurusan dengan cetak-mencetak tetapi juga menangani image-image yang bergerak, audio visual, display dan juga pameran. Oleh karena itu desain grafis menggunakan istilah yang lebih mewakili yaitu desain komunikasi visual mengingat luasnya area kerja dari desain grafis. Kemudian mulai tahun 80an istilah desain komunikasi visual (Deskomvis/DKV) mulai dikenal luas dan digunakan oleh banyak perguruan tinggi.

Dalam menciptakan karya desain komunikasi visual di masa kini bukanlah perkara mudah. Persaingan makin ketat, masyarakat makin cerdas, tuntutan kesempurnaan makin kuat. Karena itulah, para desaigner komunikasi visual saat ini hendaknya sudah berpikir dan menyadari bahwa sebagai seorang designer komunikasi visual hendaknya harus memiliki pengetahuan dasar sumber-sumber desain dan aplikasi yang efektif, mampu memetakan persoalan yang dihadapi dengan baik serta memiliki sikap positif dan mampu melakukan analisa isi secara mendalam. (Safanayong, 2006:vii)

Jenjang pendidikan Desain Grafis juga beragam merespon kebutuhan tersebut, dari SMK, D3, S1, S2, bahkan hingga S3 dengan spesifikasi atau pendalaman materi yang berbeda pada setiap jenjang pendidikannya.



Kompetensi Desainer Grafis



Dari sudut pandang pendidikan Desain Grafis, khusus untuk jenjang S1, pada perguruan tinggi memprioritaskan kompetensi utama dari rancangan kurikulum untuk Desain Grafis harus mampu menghasilkan lulusan-lulusan sebagai berikut:

1.    Mahasiswa memiliki kemampuan atau keahlian untuk merancang suatu karya desain, baik secara manual maupun dengan menggunakan perangkat teknologi seperti komputer grafis dll dengan visualisasi yang sesuai dengan kebutuhan.

2.    Mahasiswa memiliki pengetahuan dan wawasan desain yang baik untuk menganalisa dan merancang suatu desain, mewujudkan konsep dan mengimplementasikannya menjadi karya desain yang sesungguhnya, dan dapat diterapkan pada berbagai bidang yang membutuhkan jasa dan keahliannya.

Sehingga secara umum Desain Grafis juga memiliki tiga fungsi berdasarkan kompetensi tersebut. Fungsi yang utama dari desain grafis adalah mengidentifikasikan sesuatu, seperti label dalam packaging, atau Logo bagi perusahaan tertentu sehingga semua itu jelas dapat diidentifikasikan. Fungsi berikutnya adalah memberikan arahan dan kejelasan informasi mengenai objek tertentu seperti; diagrams, directional sign, maps dll. Sedangkan fungsi yang ke tiga adalah memiliki fungsi mempresentasikan seperti usaha untuk mengkomunikasikan pesan ataupun produk tertentu. 


“Pemasang” atau “Tukang Setting”

Istilah “pemasang” digunakan karena memang kebanyakan pekerjaan yang dilakukan adalah memasang gambar atau ide yang sudah ada, walaupun ada kreativitas untuk melakukan itu. Kemudian istilah”pemasang” sebenarnya banyak lebih dipahami adalah “tukang setting”, yang sebenarnya bernada merendahkan. Istilah ini sering dilontarkan para akademisi desain untuk menyebut mereka yang hanya mengerti software grafis. Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah itu, mereka belajar desain grafis secara otodidak, melalui buku maupun artikel internet yang memang saat ini sangat banyak dan mudah ditemukan. Apalagi didukung kondisi kemudahan mendapatkan software-software grafis (vektor maupun piksel) yang dengan mudah didapatkan dengan “gratis”. Memang untuk menguasai software grafis tersebut tidak susah, karena pihak pengembang software pastinya juga berusaha memberi kemudahan bagi user.

Tukang setting membuat karya desain dengan dasar selera seadanya, bukan dengan riset ataupun pengetahuan komposisi seni rupa. Hasilnya memang terkadang secara visual sudah mampu menyajikan karya yang bagus, tetapi tak jarang juga menghasilkan karya yang membuat penonton mengabaikannya. Bagaimanapun, tidak ada yang salah dengan kondisi tersebut. Dan pada level ini pun sudah dapat menjadi pekerjaan tersendiri, tentu saja dengan upah yang pantas untuk kategori “tukang”.


Berikut rangkuman perbedaan-perbedaan yang mungkin bisa dipahami dengan sederhana antara “perancang” dengan "pemasang" 


Perancang (Desainer Grafis)
Pemasang (Tukang Setting)
Pemilihan gambar, bentuk, ukuran, warna, jenis huruf, dan sebagainya dipilih berdasarkan konsep dari riset dan kondisi yang akan disampaikan.

Desainer grafis tahu pentingnya keterbacaan tulisan, sehingga pemilihan jenis huruf untuk isi naskah (body copy) dilakukan dengan hati-hati dengan memperhitungkan jarak pandang (baca), lebar baris, banyaknya teks, dan usia target audience.

Di dalam proses membuat desain, komputer adalah salah satu alat dalam berkarya. Ada tahapan-tahapan sangat penting yang harus dilalui sebelum menggunakan komputer. Dari idea mapping, sketching, gambar manual, ataupun fotografi bisa dilakukan tergantung konsep latar belakangnya.

Dalam berkarya menggunakan alur kerja yang jelas; diawali dari riset, brainstorming dengan klien dan steakholder, sketsa, dan eksekusi terakhir barulah menggunakan komputer.


Desainer grafis menjadikan teori-teori seni rupa dan desain sebagai landasan membuat desain sebelum akhirnya mampu membuat desain yang "spektakuler".
Pemilihan gambar, bentuk, ukuran, warna, jenis huruf, dan sebagainya biasanya hanya berdasarkan selera.

Karena kurang memperdulikan pentingnya keterbacaan dan pemilihan jenis huruf untuk isi naskah dilakukan dengan sembarang. Yang akhirnya akan menghilangkan kenyamanan dan minat dalam membaca.


Diutamakan skill (praktis) mengolah gambar dengan komputer, sehingga keahlian mengolah software desain adalah alat skill utama bahkan satu-satunya.





Mengutamakan keinginan/permintaan klien dan hampir tidak pernah memberi masukan terhadap klien. Kemudian menyelesaikan pekerjaan dengan mengumpulkan dan menggabungkan image yang sudah ada, bahkan menjiplaknya.

Belum juga mengetahui atau mempelajari teori seni rupa dan desain, biasanya beberapa "tukang setting" sudah merasa mampu membuat desain yang "spektakuler".





Bagaimana Seharusnya?

Pertama dari sudut pandang klien, terkadang klien dari kalangan orang awam yang tidak mengerti dan tidak dapat membedakan antara Desainer Grafis dan Tukang Setting yang sudah dibahas di atas. Mereka hanya melihat orang bisa mengoperasikan software grafis dianggap sebagai Desainer Grafis. Seperti halnya orang yang mempunyai kamera berarti bisa memotret dengan baik. Klien awam pun selalu memandang sebelah mata setiap pekerjaan desain grafis, dan seharusnya bayarannya tentu berbeda karya yang tidak ada proses kreatif yang dalam dan karya yang tidak ada proses kreatifnya. Dianggapnya membuat desain adalah simple (karena karya akhirnya terlihat simple), mereka melihat membuat desain adalah mudah. Namun, mereka tidak sadar bahwa kita mudah mengerjakannya dikarenakan kita telah memasuki level spesialis. Seperti halnya dokter spesialis, pasti telah melalui segala proses hidup dan kehidupannya. Klien awam terkadang tidak mau tahu, proses kreatif yang dijalankan desainer grafis. Mereka kebanyakan menginginkan cepat, bagus, murah, bahkan gratis.

Kedua, sudut pandang Desainer Grafis, fenomena di atas banyak disebabkan oleh desainer grafis itu sendiri dengan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dengan tarif yang tidak ada aturan bakunya. Di sisi lain mereka puas dengan hal-hal teknis, baik dengan hand drawing maupun digital. Mereka belum mampu melepaskan diri dari kesenangan pada hasil visualnya saja. Padahal, seperti halnya penjelasan di atas, keahlian dan ketrampilan teknis hanyalah alat untuk memvisualisasikan ide dan konsep. Seorang desainer yang baik juga dituntut mempunyai product knowledge yang baik, termasuk memahami persoalan-persoalan kontemporer jika ia hendak menciptakan suatu projek desain. Artinya, desainer jelas harus mampu melampaui aspek teknis visual, karena posisinya adalah sebagai seorang konseptor, bukan lagi seorang tukang desain.

Sebenarnya, baik “Perancang” maupun “Penata” tadi tergantung kualitas sumber daya masing-masing. Bisa jadi lulusan Desain Grafis terjun di lapangan sebagai Setter, sebaliknya yang otodidak yang ulet dan selalu belajar akan mampu membuat desain sesuai dengan standar bahkan lebih baik dari lulusan Desain Grafis. Semua kembali ke individu masing-masing, namun dalam menghadapi pasar bebas segalanya harus tersruktur dan kompetensi-kompetensi di dunia kerja ada sertifikasi khusus demi hasil yang maksimal. Disitulah lulusan Desain Grafis (DKV) lebih bisa dihargai karena memang mempunyai pendidikan yang lebih jelas, walaupun tetap harus mengikuti syarat yang berlaku.

Semoga dunia Desain Grafis (DKV) di Indonesia semakin maju seiring kebutuhan industri dan teknologi yang semakin maju pula. Sehingga Desainer Grafis dapat semakin berperan dan bahkan menjadi pioner perubahan dengan kreatifitasnya.

Salam Kreatif