Monday, April 18, 2016

Teknis Cetak dalam Mendesain Logo



Pertimbangan Teknis Cetak dalam Mendesain Logo
Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si

Logo sangat penting keberadaannya saat ini dimana hampir semua instansi butuh identitas agar bisa dikenali dengan mudah oleh masyarakat baik untuk kebentingan bisnis maupun non bisnis. Semua pengguna logo menginginkan identitas dirinya menjadi perhatian, selain itu juga digunakan sebagai simbol jati diri dengan memasukkan visi misi instansi tersebut agar lebih percaya diri, karena terkadang secara sekilas bagus tidaknya perusahan, instansi, atau produk bisa dikenali dari bagus tidaknya logo yang dipamerkan.
Menurut David E. Carter “logo adalah identitas suatu perusahaan dalam bentuk visual yang diaplikasikan dalam berbagai sarana fasilitas dan kegiatan perusahaan sebagai bentuk komunikasi visual. Logo dapat juga disebut dengan simbol, tanda gambar, merek dagang (trademark) yang berfungsi sebagai lambang identitas diri dari suatu badan usaha dan tanda pengenal yang merupakan ciri khas perusahaan”.
Pada awalnya desain logo dikenal pertama di negeri Yunani kuno dengan penggunaan lambang yang terdiri atas satu atau dua huruf untuk mewakili inisial nama seseorang atau tempat untuk digunakan sebagai alat tulis atau tanda simbol. Mata uang koin Yunani dan Romawi memberi arti penting dalam melahirkan logo yang diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan. Kemudian di jaman pertengahan, logo banyak terlihat pada penggunaan hiasan gereja dan keperluan komersil. Pada abad 13, penggunaan bentuk simbol sederhana ini telah meningkat pada merk dagang untuk jual beli. Contoh awal desain logo ini termasuk tanda untuk rumah pejabat, pengrajin emas, pembuat kertas dan kebangsawanan. Kemudian pada tahun 1700-an, tiap-tiap pedagang produsen distributor dan pengecer punya satu merk dagang atau cap.
Sekarang logo perusahaan telah menjadi wajah dari bisnis dan perekonomian. Masyarakat umum telah menjadi sangat mau merespon terhadap logo, arti logo, dan apa yang diimplementasikannya. Karena perbedaan produk dan jasa tersedia, kebutuhan untuk inovatif dan kepahaman identitas desain logo dan perusahaan adalah pusat kesuksesan sebuah perusahaan.
Pada kesempatan ini khusus bagaimana membuat logo dilihat dari sisi teknis cetak. Sudah begitu banyak tips-tips membuat logo yang baik, dari teori dasar hingga implementasinya secara sederhana cara membuatnya. Akan tetapi masih banyak juga kasus-kasus logo yang tampil tidak maksimal. Secara artistik dan filosofi logo sudah memenuhi syarat, begitu di aplikasikan ke dalam berbagai macam media terjadi kesalahan yang tentunya tidak diinginkan oleh desainer maupun pemilik logo tersebut. Tulisan ini mencoba mengupas sedikit apa yang terjadi dan mencoba untuk memecahkan masalah sehingga bisa bermanfaat.
Dalam membuat Logo banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk memenuhi kriteria logo yang baik dari berbagai sudut pandang. Faktor-faktor tersebut adalah:
1.        Faktor Filosofi
Masalah filosofi yang dimaksud adalah pemikiran dasar pembuatan logo, mencakup visi misi perusahaan, kepercayaan sang pemilik perusahaan, budaya setempat dan pengaruhnya ke budaya lain, konsep marketing hingga feng sui. Misalnya sebuah logo disebut baik adalah yang mengemban visi misi perusahaan ke depan, misalnya bergambar kapal karena mempunyai makna perjalanan untuk maju dan seterusnya. Kemudian hindari juga pengaruhnya pada budaya di luar, jangan sampai logo tersebut mempunyai arti buruk bagi budaya lain yang tidak diketahui sebelumnya.
Konsep marketing sering juga menjadi acuan pembuatan sebuah logo, terutama logo produk. Misalnya produk itu akan dijual dimana saja, target pasarnya siapa, katagori produknya seperti apa, dan sebagainya. Desainer harus mempertimbangkan itu semua agar logo benar-benar menjadi sesuatu yang baik dari segala sisi. Bahkan tidak menutup kemungkinan merancang logo tidak lepas dari masalah kepercayaan dan aturan-aturan yang berbau mistis, karena memang sering pelaku bisnis atau pimpinan mempunyai kepercayaan pribadi yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.
2.        Faktor Artistik
Bagaimanapun logo adalah karya seni komunikasi visual yang bisa berupa teks, gambar, atau gabungan gambar dan teks dimana membutuhkan sentuhan seni agar terlihat indah. Sehingga logo harus juga mempertimbangakan aspek-aspek dasar seni rupa, misalnya psikologi warna tentang warna apa yang pas dengan kondisi. Jenis typografi yang disesuaikan konsep dan keterbacaan yang baik, penempatan objek dengan menganut teori komposisi keseimbangan, kesatuan, kesederhanaan dan sebagainya.
Merencanakan beberapa variasi dari Logo tergantung pada penggunaan, letak, proporsi, warna latar belakang. Seperti apakah logo itu akan terlihat ketika diletakkan pada latar belakang putih, pada latar belakang hitam atau berwarna, dan sejauh mana perubahan warna logo diperbolehkan. Pemilik bisnis harus bekerja dengan para desainer untuk menciptakan pedoman penggunaan merk atau aturan untuk menentukan apa yang benar atau salah dalam penggunaan logo baru. Sebutannya adalah graphic standart manual atau juga bisa menggunakan istilah brand identity guideline. Dipakai saat meletakkan desain logo pada sebuah media. Serangkaian peraturan dimuat dalam pedoman penggunaan logo yang dimaksudkan agar tidak ada ambiguitas dan kebingungan masyarakat terhadap logo brand baru.
3.        Faktor Teknis
Faktor teknis inilah yang akan banyak kita bahas. Pada faktor teknis ini yang diperhatikan adalah bagaimana logo bisa fleksibel dengan berbagai teknologi cetak.
a.         Vector
Membuat logo dari awal dipastikan memakai format vector dan disimpan sebagai master desain, dan jika ingin menggunakan dalam bentuk bitmap biasakan mengambil dari format vector tersebut diubah menjadi bitmap dan bukan sebaliknya. Hal ini penting karena logo sering diaplikasikan ke berbagai media dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Format gambar vektor akan memudahkan karena format ini tidak pecah saat diperbesar. Secara default logo harusnya mempunyai beberapa format file sehingga dapat dipakai pada tugas-tugas khusus. Misalnya eps, jpg, ai, cdr, svg, wmf, dan png transparan. Format file eps vektor diperlukan dipakai untuk media cetak. Format bitmap JPG file akan diperlukan untuk situs web, dan png file dapat digunakan dalam aplikasi Microsoft office seperti Word dan Powerpoint.
b.        Penggunaan Font/Typeface
Font yang digunakan untuk logo hendaknya perlu diperhatikan secara khusus, karena font yang beredar di internet maupun font-clip tidak sepenuhnya gratis. Karena font juga sebuah karya dari desainer dan ada hak ciptanya, biasanya digratiskan hanya untuk keperluan non komersial, tapi jika untuk komersial font tersebut tidak serta merta gratis. Tulisan pada logo lebih aman membuatnya dengan menulis/membuat bentuk tulisan sendiri (custom), bisa dilakukan dengan memodifikasi dari typeface yang telah ada atau membuat dari awal.
Selain itu, jika logo berupa logotype atau lebih mudahnya logo terdiri dari tulisan yang diubah sedemikian rupa sehingga lebih estesis perlu dites apakah sudah tepat jarak, ukuran dan bentuknya. Logo harus mudah dibaca pada ukuran kecil (secara default 18pt font). Apabila konsumen adalah para manula dan mereka yang tidak lagi mampu membaca tulisan dengan baik sebaiknya ini menjadi checklist penting. Jika logo tersebut sudah bisa dibaca dengan legibilitas dan readabilitas cukup sudah layak logo tersebut masuk dalam daftar pakai logo untuk perusahaaan.
c.         Warna CMYK
Dalam pembuatan logo biasakan memakai mode warna CMYK (cyan magenta yellow black) karena untuk standar produksi cetak, hampir semua teknologi cetak menggunakan mode warna CMYK. Gunakan komposisi warna CMYK tersebut untuk standar warna acuan, sedangkan untuk  keperluan publish di media elektronik, logo CMYK tadi diubah ke mode RGB (red green blue) bukan sebaliknya. Karena logo lebih banyak aplikasinya untuk media-media yang tercetak dan jika standar warna memakai mode RGB, nanti jika ada keperluan dicetak, warna tinta (CMYK) akan susah mencapai warna yang ditampilkan pada mode RGB sehingga warna cetak cenderung lebih “drop” dan mengecewakan.

d.        Warna Spesial
Desain logo yang berwarna-warni mungkin terlihat bagus dan terlihat lebih memikat pandangan setiap mata orang, hal ini juga penting untuk mempertimbangkan kepraktisan desain. Untuk setiap warna tambahan yang dimiliki logo, ada tambahan biaya setiap kali mereproduksi sesuatu yang memakai logo tersebut. Terutama yang berkaitan dengan cetak seperti kartu ucapan, t-shirt, brosur, banner, kemasan atau apa saja. Setiap jasa percetakan atau proses produksi massal akan memiliki biaya tambahan untuk warna tambahan.
Kesederhanaan sangat diperlukan pada sebuah logo, selain kesederhanaan bentuk juga kesederhanaan warna. Hindari pemilihan warna-warna yang susah dicetak kecuali memang sudah menjadi kesepakatan bersama dengan menerima konsekuensi yang ada. Warna-warna yang susah dicetak tersebut misalnya warna emas, perak, warna spot yang menyala, dan sebagainya.
e.        Fleksibilitas Ukuran
Logo yang baik adalah logo yang fleksibel saat ada perubahan ukuran, terutama ukuran yang kecil. Banyak logo yang bagus tapi jika ditampilkan di media yang menuntut logo tersebut diperkecil logo tersebut tidak terbaca tulisannya atau tidak jelas detailnya. Sekali lagi kesederhanaan bentuk sangat dituntut dalam pembuatan logo, karena logo nantinya bisa ditampilkan dengan berbagai ukuran dan harus tampil menarik untuk di cetak super besar (ukuran billboard) tapi juga menarik tampil kecil seperti di kartu nama.

f.          Variasi Aplikasi Media
Media cetak dan elektronik sangat beragam dengan standar produksi yang berbeda satu sama lain. Logo dituntut bisa ditempatkan ke semua media tersebut. Khusus media cetak ada banyak sekali teknologi cetak yang berkembang, semuanya membutuhkan perlakuan khusus dalam proses cetaknya. Misalnya sebuah logo sangat bagus bila di cetak untuk brosur, company profile dan poster, tapi belum tentu bagus jika tampil di media sablon kaos, bordir, aplikasi souvenir, teknik emboss hingga stempel. Logo yang baik harus siap di berbagai media, sehingga peran desainer sangat dominan. Desainer harus menyiapkan segala kemungkinan aplikasi logo pada berbagai macam media
Demikian hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam merancang sebuah logo khususnya pertimbangan-pertimbangan teknis cetak. Semakin maju teknologi cetak tentunya akan mengubah hal-hal teknis juga, dan semestinya semakin maju teknologi akan semakin mudah melakukan atau mengaplikasikan ide-ide ke media-media baru. Sebagai desainer tentunya mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut, karena filosofi dasar cetak mencetak adalah; Garbage In Garbage Out, artinya jika dari awal membuatnya tidak baik dicetak dengan teknologi apapun hasilnya juga tidak baik. Tetap semangat dan selalu kreatif.

Sunday, April 3, 2016

Desain Grafis pada Industri Grafika



Desain Grafis pada Industri Grafika
Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si



Pada era sebelum tahun 80-an, desainer grafis nyaris tidak ada kewajiban menyimak teknologi canggih. Mereka bekerja secara manual menggunakan penggaris, mal, jangka, spidol, rapido, kuas, cutter, gunting, lem dan peralatan manual lainnya. Kemudian komputer menggantikan peralatan manual dan menjadi alat bantu utama untuk membantu memvisualisasikan ide desainer, maka desainer wajib mengikuti perkembangan komputer,  hingga 90-an, tidak sedikit desainer yang terkena compuphobia atau penyakit “takut” komputer yang mereka anggap sebagai teknologi canggih yang susah dipahami.
Hal serupa juga dialami di dunia cetak, orang percetakan dari pra cetak, operator cetak, hingga fininshing menggunakan peralatan yang manual untuk mencetak rancangan dari desainer grafis hingga ratusan tahun tanpa perkembangan yang signifikan. Hingga para era komputer segalanya berubah, tidak hanya peralatan tapi hingga pemikiran dasar dan tanggung jawab pelaku cetak juga berubah. Dan pada kesempatan ini sedikit dikupas peranan dan posisi desainer grafis pada dunia cetak-mencetak yang sering pekerjaannya overlap dengan bagian produksi hingga agak susah membedakan desainer grafis dan orang grafika.
 
Apa itu Desain Grafis ?
Seorang desainer grafis belum tentu pandai membuat ilustrasi sehingga belum bisa disebut sebagai seorang ilustrator. Desain berasal dari bahasa Latin designare, atau bahasa Inggris design, yang berarti rancangan. Menurut Yustiono dalam Sachari (1986 : 22), menyatakan istilah desain berasal dari bahasa Perancis, desainer yang berarti menggambar dan kadang-kadang diartikan juga perancangan, bahkan ada kecenderungan yang menunjukkan bahwa bidang desain itu meliputi cara penanganan berbagai bidang; antara lain seni kerajinan, kekriyaan, dan teknologi.
Pada masa lalu semua bentuk media publikasi, benar- benar berwujud fisik berupa cetakan menggunakan tinta pada bidang kertas atau obyek tertentu. Desain grafis bertugas merancang komunikasi visual dengan menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan dan dapat diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art (seni grafis). Desain Grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain) yang mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak.
Di sisi lain keindahan bersifat relatif, setiap orang mempunyai selera masing-masing terhadap obyek yang sedang ada di hadapannya. Dari beberapa orang saja, mereka akan mengatakan tingkat keindahan pada suatu obyek yang berbeda-beda. Karena bagus dan tidak, indah dan tidak, masuk ke dalam kategori selera pribadi dan inilah yang disebut dengan pertimbangan estetis yang sifatnya sangat relatif dan juga subyektif. Oleh karena itu, terkadang seorang desainer grafis justru mendapatkan arahan desain yang bagus dan tidak dari nondesainer, atau dalam hal ini adalah kliennya, yang notabenenya justru tidak mengerti prinsip-prinsip dalam desain.
Untuk mengatasi permasalahan ini, desainer harus paham dan mampu menjelaskan apa itu desain grafis kepada non-designer. Terlebih kepada klien, desainer harus punya alasan untuk setiap elemen grafis yang dibubuhkan pada setiap desain, baik itu warna, tekstur, bentuk, garis, dll. Hal ini akan membuat mereka paham bahwasanya desainer bekerja berdasarkan tehnik dan metode tertentu dalam menyampaikan pesan secara visual, dan bukan sekedar asal meletakkan elemen grafis pada sebuah karya desain.
Kemudian karena perkembangan media, Desain Grafis (sekarang lebih dikenal Desain Komunikasi Visual) mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif,  teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa bentuk dan gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya.

Apa itu Grafika ?
Grafika adalah segala cara pengungkapan fikiran, gagasan, gagasan dan pengalaman dengan menggunakan huruf atau tanda/ gambar yang diperbanyak dengan mencetak guna disampaikan pada khalayak umum sebagai media massa atau barang cetakan, dengan kata lainnya cetak mencetak adalah memperbanyak suatu desain/naskah dengan mesin cetak sebanyak yang dipesan. Kemudian istilah grafika itu ada malah sudah berkembang menjadi Industri Grafika yang lebih luas yaitu tentang kertas, tinta, bahan kimia grafika, mesin cetak, komputer pre-press, komputer press, dan mesin penyelesaian produk grafika (buku, majalah, koran, dan lainnya).
Menurut Kementrian Perindustrian RI, para pelaku usaha di industri grafika berbasis percetakan, penerbitan dan converting pada tahun 2012 bisa tumbuh 4,7%. Kemudian Tahun 2015, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor komoditi barang cetakan dan grafika pada 2014 tercatat US$201 juta. Dan Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memprediksikan pertumbuhan ekonomi di sektor industri (umum) 10 hingga 20 persen pada tahun 2016 ini. Pendek kata industri grafika masih selalu tumbuh seiring kemajuan jaman dan keanekaragaman kebutuhan.
Keahlian grafika yang umum diaplikasikan di pabrik percetakan, sedangkan yang lebih spesifik dapat diaplikasikan di bahan grafika pendukung percetakan seperti produk kertas, tinta cetak, mesin cetak dan instrumen pendukung lainnya spt alat testing lab untuk kertas, tinta maupun test atau control percetakan.

Desain Grafis pada Industri Grafika
Menurut pengamat Desain Grafis, Hermawan Tansil mengungkapkan bahwa desain berfungsi untuk menambah nilai bagi sebuah produk sehingga produk tersebut bisa memperkaya kehidupan masyarakat. Desainer Grafis harus bisa berperan seperti art director dalam film yakni menciptakan karakter. Untuk itu desainer grafis, harus mengutamakan perspektif branding. Karakter kuat diperlukan untuk menjadikan sebuah produk berbeda dari produk sejenis.
Desainer dituntut selalu mengubah perilaku terhadap percetakan dan memperlakukan percetakan dan praktisi percetakan sebagai rekan bahkan konsultan, bukan sekedar operator mesin cetak. Percetakan adalah bagian yang sangat penting untuk membuat karya desain yang berkualitas. Maka, komunikasi dengan pihak percetakan harus dijaga untuk mencapai solusi dalam membuat karya desain yang semenarik mungkin.
Desainer dituntut selalu mengubah perilaku terhadap percetakan dan memperlakukan percetakan dan praktisi percetakan sebagai rekan bahkan konsultan, bukan sekedar operator mesin cetak. Percetakan adalah bagian yang sangat penting untuk membuat karya desain yang berkualitas. Maka, komunikasi dengan pihak percetakan harus dijaga untuk mencapai solusi dalam membuat karya desain yang semenarik mungkin.
1.      Pertimbangan artistik
Komputer dan program-program graphic design telah membuka dunia baru dalam mengekspresi kreasi bagi desainer. Kadang peralatan dalam program-program ini bisa membingungkan dan bahkan bisa membuat frustrasi. Sering menjadi masalah saat desainer menggunakan sofware yang tidak direkomendasi untuk dunia cetak, yang mungkin bukan pilihan yang terbaik dalam menciptakan desain. Dunia grafika menuntut desainer grafis menguasai segala macam teknologi dan bahan cetak, sehingga konsep artistik yang dibuat akan maksimal dengan mengetahui dengan baik bagaimana desain tersebut akan dicetak, dan menggunakan bahan cetak apa saja sehingga hasil cetak bisa maksimal dan baik secara kualitas juga dari sisi keindahan.
2.      Pertimbangan produksi
Pemikiran penting lainnya adalah sistem produksi yang dipilih. Setiap sistem produksi mempunyai biaya dan waktu penyelesaian yang berbeda. Salah perhitungan waktu bisa menyebabkan keterlambatan dateline. Produksi dalam hal ini mencakup proses Prepress-Press-Postpress. Desain harus mempertimbangkan hal tersebut untuk efisiensi biaya dan waktu. Banyak desainer mengabaikan proses produksi sehingga konsep rancangannya susah dicetak bahkan tidak bisa dicetak. Memang tanggung jawab pelaksanaan cetak tidak berada pada desainer grafis, tapi hasil jadi seperti apa tetap saja merupakan tanggung jawab desainer. Sehingga desainer wajib melakukan komunikasi dengan bagian produksi (percetakan) agar segala inovasi dan konsep desainnya bisa direalisasikan dengan mudah dan efektif waktu dan biaya.
3.      Pertimbangan distribusi
Rencana distribusi media adalah unsur yang sangat penting dalam perencanaan program media. Perlu menentukan cara yang terbaik untuk mempertimbangkan: Keamanan distribusi, Kemudahan distribusi, volume yang berhubungan dengan biaya distribusi, dsb. Masalah ini sering terjadi pada desain produk dan packaging. Desain yang bagus secara artistik dan mudah dicetak belum tentu mudah didistribusikan, misalnya desain packaging yang inovatif berbentuk bola atau sesuatu yang berbentuk khusus mudah tertekuk, maka pada saat didistribusikan bentuk-bentuk tersebut membutuhkan perlakuan khusus yang bisa menambah biaya pengemasan. Dan jika tidak ada perlakuan khusus produk tersebut akan mudah rusak. Kemasan harus mudah didistribusikan dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ke tangan konsumen. Di tingkat distributor, kemudahan penyimpanan dan pemajangan perlu dipertimbangkan. Bentuk dan ukuran kemasan harus direncanakan dan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak sampai menyulitkan peletakan di rak atau tempat pemajangan. Semua itu harus menjadi pertimbangan desainer grafis.


Salam Kreatif