Wednesday, July 13, 2016

Desainer Grafis Sang Perancang



Desainer Grafis Sang Perancang bukan Pemasang

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.





Perkembangan teknologi selalu seperti pedang bermata dua, selain mempermudah juga sekaligus membuat susah. Seperti halnya di dunia desain grafis, fasilitas open source, free software, free fonts, stock photo, image bank, hingga berbagai varian design template tersedia dengan lengkap dan siap diunduh secara gratis. Maka dunia maya bagi industri desain grafis dengan sendirinya menjelma menjadi surga era rekayasa digital. Dunia industri kreatif sendiri sejauh ini bersikap oportunis, para penggiat desain grafis banyak yang memanfaatkan kemudahan tersebut dan sering lupa kompetensi dirinya sebagai kreator.

Desain Grafis (Graphic Design), mempunyai lingkup kerja di area Seni Terapan (Applied Art) dan sering disebut juga Commercial Art karena orientasinya kebutuhan seninya sering untuk kepentingan bisnis. Pada awalnya pekerjaan Desain Grafis dikerjakan oleh para Seniman yang memiliki kemampuan komunikasi, estetika, dan craftmanship yang luar baik di dalam mengolah elemen-elemen visual. Kebutuhan estetika untuk kepentingan bisnis terus meledak seiring kemajuan jaman dan teknologi, sehingga peran seniman tersebut semakin dibutuhkan.

Peranan Desain Grafis pada era revolusi industri maupun era-era selanjutnya tak terbantahkan lagi dan menjadi suatu bagian mata rantai yang dibutuhkan untuk menggerakan roda perekonomian. Gert Dumbar seorang Desainer Grafis asal Belanda kelahiran Indonesia memperkenalkan istilah Desain Komunikasi Visual pada tahun 1977 setelah lulus dari Royal College of Art di London. Menurut Dumbar, desain grafis tidak hanya berurusan dengan cetak-mencetak tetapi juga menangani image-image yang bergerak, audio visual, display dan juga pameran. Oleh karena itu desain grafis menggunakan istilah yang lebih mewakili yaitu desain komunikasi visual mengingat luasnya area kerja dari desain grafis. Kemudian mulai tahun 80an istilah desain komunikasi visual (Deskomvis/DKV) mulai dikenal luas dan digunakan oleh banyak perguruan tinggi.

Dalam menciptakan karya desain komunikasi visual di masa kini bukanlah perkara mudah. Persaingan makin ketat, masyarakat makin cerdas, tuntutan kesempurnaan makin kuat. Karena itulah, para desaigner komunikasi visual saat ini hendaknya sudah berpikir dan menyadari bahwa sebagai seorang designer komunikasi visual hendaknya harus memiliki pengetahuan dasar sumber-sumber desain dan aplikasi yang efektif, mampu memetakan persoalan yang dihadapi dengan baik serta memiliki sikap positif dan mampu melakukan analisa isi secara mendalam. (Safanayong, 2006:vii)

Jenjang pendidikan Desain Grafis juga beragam merespon kebutuhan tersebut, dari SMK, D3, S1, S2, bahkan hingga S3 dengan spesifikasi atau pendalaman materi yang berbeda pada setiap jenjang pendidikannya.



Kompetensi Desainer Grafis



Dari sudut pandang pendidikan Desain Grafis, khusus untuk jenjang S1, pada perguruan tinggi memprioritaskan kompetensi utama dari rancangan kurikulum untuk Desain Grafis harus mampu menghasilkan lulusan-lulusan sebagai berikut:

1.    Mahasiswa memiliki kemampuan atau keahlian untuk merancang suatu karya desain, baik secara manual maupun dengan menggunakan perangkat teknologi seperti komputer grafis dll dengan visualisasi yang sesuai dengan kebutuhan.

2.    Mahasiswa memiliki pengetahuan dan wawasan desain yang baik untuk menganalisa dan merancang suatu desain, mewujudkan konsep dan mengimplementasikannya menjadi karya desain yang sesungguhnya, dan dapat diterapkan pada berbagai bidang yang membutuhkan jasa dan keahliannya.

Sehingga secara umum Desain Grafis juga memiliki tiga fungsi berdasarkan kompetensi tersebut. Fungsi yang utama dari desain grafis adalah mengidentifikasikan sesuatu, seperti label dalam packaging, atau Logo bagi perusahaan tertentu sehingga semua itu jelas dapat diidentifikasikan. Fungsi berikutnya adalah memberikan arahan dan kejelasan informasi mengenai objek tertentu seperti; diagrams, directional sign, maps dll. Sedangkan fungsi yang ke tiga adalah memiliki fungsi mempresentasikan seperti usaha untuk mengkomunikasikan pesan ataupun produk tertentu. 


“Pemasang” atau “Tukang Setting”

Istilah “pemasang” digunakan karena memang kebanyakan pekerjaan yang dilakukan adalah memasang gambar atau ide yang sudah ada, walaupun ada kreativitas untuk melakukan itu. Kemudian istilah”pemasang” sebenarnya banyak lebih dipahami adalah “tukang setting”, yang sebenarnya bernada merendahkan. Istilah ini sering dilontarkan para akademisi desain untuk menyebut mereka yang hanya mengerti software grafis. Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah itu, mereka belajar desain grafis secara otodidak, melalui buku maupun artikel internet yang memang saat ini sangat banyak dan mudah ditemukan. Apalagi didukung kondisi kemudahan mendapatkan software-software grafis (vektor maupun piksel) yang dengan mudah didapatkan dengan “gratis”. Memang untuk menguasai software grafis tersebut tidak susah, karena pihak pengembang software pastinya juga berusaha memberi kemudahan bagi user.

Tukang setting membuat karya desain dengan dasar selera seadanya, bukan dengan riset ataupun pengetahuan komposisi seni rupa. Hasilnya memang terkadang secara visual sudah mampu menyajikan karya yang bagus, tetapi tak jarang juga menghasilkan karya yang membuat penonton mengabaikannya. Bagaimanapun, tidak ada yang salah dengan kondisi tersebut. Dan pada level ini pun sudah dapat menjadi pekerjaan tersendiri, tentu saja dengan upah yang pantas untuk kategori “tukang”.


Berikut rangkuman perbedaan-perbedaan yang mungkin bisa dipahami dengan sederhana antara “perancang” dengan "pemasang" 


Perancang (Desainer Grafis)
Pemasang (Tukang Setting)
Pemilihan gambar, bentuk, ukuran, warna, jenis huruf, dan sebagainya dipilih berdasarkan konsep dari riset dan kondisi yang akan disampaikan.

Desainer grafis tahu pentingnya keterbacaan tulisan, sehingga pemilihan jenis huruf untuk isi naskah (body copy) dilakukan dengan hati-hati dengan memperhitungkan jarak pandang (baca), lebar baris, banyaknya teks, dan usia target audience.

Di dalam proses membuat desain, komputer adalah salah satu alat dalam berkarya. Ada tahapan-tahapan sangat penting yang harus dilalui sebelum menggunakan komputer. Dari idea mapping, sketching, gambar manual, ataupun fotografi bisa dilakukan tergantung konsep latar belakangnya.

Dalam berkarya menggunakan alur kerja yang jelas; diawali dari riset, brainstorming dengan klien dan steakholder, sketsa, dan eksekusi terakhir barulah menggunakan komputer.


Desainer grafis menjadikan teori-teori seni rupa dan desain sebagai landasan membuat desain sebelum akhirnya mampu membuat desain yang "spektakuler".
Pemilihan gambar, bentuk, ukuran, warna, jenis huruf, dan sebagainya biasanya hanya berdasarkan selera.

Karena kurang memperdulikan pentingnya keterbacaan dan pemilihan jenis huruf untuk isi naskah dilakukan dengan sembarang. Yang akhirnya akan menghilangkan kenyamanan dan minat dalam membaca.


Diutamakan skill (praktis) mengolah gambar dengan komputer, sehingga keahlian mengolah software desain adalah alat skill utama bahkan satu-satunya.





Mengutamakan keinginan/permintaan klien dan hampir tidak pernah memberi masukan terhadap klien. Kemudian menyelesaikan pekerjaan dengan mengumpulkan dan menggabungkan image yang sudah ada, bahkan menjiplaknya.

Belum juga mengetahui atau mempelajari teori seni rupa dan desain, biasanya beberapa "tukang setting" sudah merasa mampu membuat desain yang "spektakuler".





Bagaimana Seharusnya?

Pertama dari sudut pandang klien, terkadang klien dari kalangan orang awam yang tidak mengerti dan tidak dapat membedakan antara Desainer Grafis dan Tukang Setting yang sudah dibahas di atas. Mereka hanya melihat orang bisa mengoperasikan software grafis dianggap sebagai Desainer Grafis. Seperti halnya orang yang mempunyai kamera berarti bisa memotret dengan baik. Klien awam pun selalu memandang sebelah mata setiap pekerjaan desain grafis, dan seharusnya bayarannya tentu berbeda karya yang tidak ada proses kreatif yang dalam dan karya yang tidak ada proses kreatifnya. Dianggapnya membuat desain adalah simple (karena karya akhirnya terlihat simple), mereka melihat membuat desain adalah mudah. Namun, mereka tidak sadar bahwa kita mudah mengerjakannya dikarenakan kita telah memasuki level spesialis. Seperti halnya dokter spesialis, pasti telah melalui segala proses hidup dan kehidupannya. Klien awam terkadang tidak mau tahu, proses kreatif yang dijalankan desainer grafis. Mereka kebanyakan menginginkan cepat, bagus, murah, bahkan gratis.

Kedua, sudut pandang Desainer Grafis, fenomena di atas banyak disebabkan oleh desainer grafis itu sendiri dengan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dengan tarif yang tidak ada aturan bakunya. Di sisi lain mereka puas dengan hal-hal teknis, baik dengan hand drawing maupun digital. Mereka belum mampu melepaskan diri dari kesenangan pada hasil visualnya saja. Padahal, seperti halnya penjelasan di atas, keahlian dan ketrampilan teknis hanyalah alat untuk memvisualisasikan ide dan konsep. Seorang desainer yang baik juga dituntut mempunyai product knowledge yang baik, termasuk memahami persoalan-persoalan kontemporer jika ia hendak menciptakan suatu projek desain. Artinya, desainer jelas harus mampu melampaui aspek teknis visual, karena posisinya adalah sebagai seorang konseptor, bukan lagi seorang tukang desain.

Sebenarnya, baik “Perancang” maupun “Penata” tadi tergantung kualitas sumber daya masing-masing. Bisa jadi lulusan Desain Grafis terjun di lapangan sebagai Setter, sebaliknya yang otodidak yang ulet dan selalu belajar akan mampu membuat desain sesuai dengan standar bahkan lebih baik dari lulusan Desain Grafis. Semua kembali ke individu masing-masing, namun dalam menghadapi pasar bebas segalanya harus tersruktur dan kompetensi-kompetensi di dunia kerja ada sertifikasi khusus demi hasil yang maksimal. Disitulah lulusan Desain Grafis (DKV) lebih bisa dihargai karena memang mempunyai pendidikan yang lebih jelas, walaupun tetap harus mengikuti syarat yang berlaku.

Semoga dunia Desain Grafis (DKV) di Indonesia semakin maju seiring kebutuhan industri dan teknologi yang semakin maju pula. Sehingga Desainer Grafis dapat semakin berperan dan bahkan menjadi pioner perubahan dengan kreatifitasnya.

Salam Kreatif

Friday, June 3, 2016

Kualitas Foto Untuk Dicetak



Kualitas Foto Untuk Dicetak

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si


Fotografi dalam hal ini sebagai salah satu media rekam dan media artistik sudah sedemikian mendalam pada benak masyarakat luas. Salah satunya pada dunia desain grafis atau desain komunikasi visual (DKV) masih menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan proses desain. Konsep desain grafis merupakan bagian dari identitas bisnis, misalnya aplikasi foto pada sebuah brosur atau poster yang baik akan dapat menarik calon pelanggan untuk mengambil dan membacanya sekaligus mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.
Karya Fotografi pada Desain Grafis dulunya lebih identik dengan karya dua dimensi yang dicetak pada berbagai macam media. Untuk mendapatkan beberapa perspektif mengenai karya foto dan kaitannya dalam proses cetak agar menghasilkan cetakan sesuai yang diharapkan, secara umum ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pemotretan maupun editing sebelum mencetaknya, seperti kamera, resolusi dan pemilihan jenis kertas, dan sebagainya.
Berikut ini beberapa tips bagaimana menjaga kualitas foto untuk dicetak, yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan desain grafis.

1.      Memilih Kamera
Hal paling mendasar sebelum membuat foto tentunya menentukan kamera yang digunakan. Kamera digital terkini sudah sangat beragam dan canggih, dari model kamera SLR, Mirrorless, Pocket, hingga Kamera Smartphone. Dan saat ini semua jenis kamera tersebut selalu dikembangkan dan hampir semua memenuhi standar umum kamera profesional. Sering terjadi hasil foto dari smartphone high-end terkadang lebih baik dibandingkan hasil dari kamera SLR dengan spesifikasi kurang baik. Hampir semua kamera terkini sudah memiliki sensor rekam yang besar, rata-rata diatas 10 megapixel.

Berikut tabel contoh hubungan ukuran megapixel kamera dengan dengan ukuran foto




Tentang megapixel, perlu diketahui bahwa banyak fotografer menyarankan memakai kamera bersensor besar adalah untuk kepentingan kualitas cetak-mencetak, bukan kepentingan kualitas secara artistik seperti warna, ketajaman gambar, dsb. Kamera dengan sensor megapixel semakin besar, semakin bisa membuat ukuran foto lebih besar untuk dicetak.
Untuk kepentingan kualitas foto pada masalah menangkap warna dan ketajaman gambar, lensa kamera lebih punya peranan untuk itu. Lensa kamera ibarat mata, kualitas lensa sangat mempengaruhi kualitas foto. Makanya sering terjadi memakai body kamera high-end dengan megapixel besar, namun menggunakan lensa yang sudah agak usang, maka hasil foto akan usang. Berbeda jika kamera dengan sensor biasa, tapi menggunakan lensa yang prima, hasil foto akan bagus.
Tidak kalah penting adalah pemilihan ukuran sensor body kamera, karena begitu banyak ukuran dengan spesifikasi yang berbeda pula. Ada yang ukuran sensor kecil megapixel besar, dan ukuran sensor besar tapi megapixel kecil.

Berikut contoh ukuran sensor


Semakin besar ukuran sensor yang digunakan, maka hasil gambar dari kamera tersebut akan semakin berkualitas juga, karena jumlah pixel yang lebih besar akan menghasilkan noise yang lebih sedikit. Oleh karena itu, gambar yang memiliki ukuran pixel lebih besar akan terlihat jauh lebih jelas dan terang.

2.      Menentukan Ukuran Foto yang Efektif
Kesalahan umum dalam menggunakan foto untuk kepentingan desain adalah ukuran setup yang salah. Seringkali, setelah puas dengan desain yang telah dibuat, mereka harus kecewa karena pihak percetakan mengembalikan desain mereka dengan alasan bahwa setup ukuran yang mereka buat tidak sesuai dengan ukuran output.
Misalnya, aplikasi foto untuk desain brosur berukuran A4 (21 x 29,7 cm), namun desain tersebut dicetak pada kertas berukuran Letter (21,6 x 27,9 cm) atau yang lebih besar. Jika kesalahan setup ukuran ini tetap dipaksakan, maka pihak percetakan harus meregangkan atau mengecilkan tata letak brosur agar sesuai dengan kertas. Hal ini tentu saja akan berimbas pada kualitas resolusi cetak dan proporsi tata letak brosur.
Dalam pengambilan foto biasakan memakai ukuran terbesar pada kamera, namun ukuran foto yang diaplikasikan pada desain hendaknya disesuaikan kebutuhan cetak. Ukuran foto diedit tidak terlalu besar sehingga sia-sia dan memperberat dalam proses desain, juga tidak terlalu kecil yang mengakibatkan hal yang lebih fatal yaitu gambar pecah.
Hal lain adalah image resolution, atau resolusi gambar dapat diartikan sebagai kerapatan pixel dalam sebuah gambar, yaitu kepadatan pixel (pixel density) yang mana pixel ini menyusun suatu image yang bisa berupa foto atau elemen grafis. Semakin padat pixel yang menyusun suatu image maka semakin detil dan tajam image tersebut. Image resolution dihitung dengan PPI (pixel per inch) walaupun banyak orang menyebut dengan istilah DPI (dot per inch).
Tidak semua media cetak image resolution yang digunakan 300ppi. Untuk media cetak yang akan dilihat dengan jarak pandang relatif jauh bisa digunakan image resolution kurang dari 100ppi, sebagai contoh spanduk dan papan iklan. Untuk spanduk, dari jarak minimal 3 meter kita sudah bisa melihat dengan jelas. Untuk papan iklan lebih variatif, ada papan iklan dengan ukuran besar sehingga jarak pandang 100 meter sudah terlihat jelas, ada papan iklan iklan dengan ukuran sedang dengan jarak pandang 50 meter sudah terlihat jelas. Semakin besar suatu media cetak semakin kecil kebutuhan akan detil dan ketajamannya sehingga semakin kecil pula image resolution yang digunakan.
Resolusi Untuk Banner, X-Banner, Baliho dll :
Ukuran sekitar 10 meter = 35dpi
Ukuran sekitar 5 meter = 100 dpi
Ukuran sekitar 2 meter = 150 dpi
Ukuran sekitar 1 meter = 200 dpi
Ketika mendesain brosur di komputer, penggunaan resolusi 72 dpi atau 300 dpi memang tidak terlihat perbedaanya. Namun, saat desain tersebut dikirim ke percetakan, maka hasilnya akan sangat jauh berbeda.

3.       Sofware Editing Foto
Penggunaan software editing foto tidak bisa dihindari untuk memaksimalkan tampilan foto. Untuk editing dasar adalah aplikasi bawaan dari kamera untuk editing format mentah (RAW) untuk mengoptimalkan White Balance. Namun setelah melewati editing dasar tersebut, seringkali fotografer atau desainer menggunakan software editing untuk desain seperti Photoshop. Memang Adobe Photoshop sering direkomendasi untuk editing foto karena mempunyai fitur-fitur yang standar baik secara kualitas digital maupun kualitas hasil cetak.
Namun banyak sofware lain yang beredar untuk editing foto, banyak yang menawarkan effect-effect spesial, namun hindarilah software-software yang instan atau aplikasi-aplikasi untuk sosial media yang mengutamakan efisiensi dan kecepatan, karena dipastikan kualitas foto (khususnya ukuran resolusi) akan “turun” disesuaikan media yang dipakai.

4.      Mode Color
Untuk standar cetak, tentunya mode color pada foto selalu menggunakan mode CMYK, karena semua konsep printing menggunakan tinta dasar CMYK. Bahkan jika diperlukan tinta tambahan juga menggunakan mode CMYK dengan ditambah spot color sesuai keinginan. Tapi khusus pada teknologi cetak foto studio/lab yang menggunakan teknologi Color Sensitive Coating, banyak yang menyarankan foto tetap menggunakan mode color RGB karena prinsip cetaknya dengan menyinari media cetak. RGB adalah mode untuk warna cahaya, sehingga diharapkan sinar yang ditembakkan ke media kualitasnya seperti tampak pada layar monitor (RGB).
Ada juga printer-printer dengan komposisi tinta yang kompleks, misalnya CMYK plus light magenta dan light cyan atau jenis tinta yang lain, banyak yang menyarankan mode color tetap di RGB karena gamut warna RGB lebih luas dibanding CMYK, diharapkan warna lebih cerah. Namun tentunya lebih baik dikonsultasikan lebih dulu dengan operator mesin yang lebih tahu kapasitas dan kualitas cetak mesin tersebut.

5.       Pemilihan Media Cetak
Pemilihan media cetak atau kertas yang tepat sangat mempengaruhi hasil cetakan dari foto atau desain aplikasinya. Jika ingin mencetak pada kertas tipis, sebaiknya menghindari penggunaan warna-warna blok pada foto atau desainnya. Begitu pula jika ingin mencetak menggunakan kertas dengan permukaan halus, licin, kasar, atau buram, maka foto/desain harus menyesuaikan dengan jenis kertas yang akan dipergunakan.
Beberapa jenis kertas yang biasa digunakan untuk mencetak foto adalah Kertas Foto.
Kertas foto yang dimaksud adalah kertas untuk mencetak foto di studio/lab foto dengan teknologi Color Sensitive Coating, yang mana kertas disinari cahaya sehingga lapisannya bereaksi kemudian diproses hingga gambar muncul.
Kemudian jika foto sudah diaplikasikan pada desain ada beberapa media umum yang sering dipakai, yaitu Art Paper dan Art Carton. Mengetahui jenis-jenis kertas yang digunakan dalam dunia percetakan, akan sangat menguntungkan untuk memastikan hasil cetakan sesuai dengan desain yang dibuat.
Ada beberapa jenis kertas cetak foto antara lain :
a)      Premium Glossy Photo Paper. Kertas cetak foto ini mampu memberikan hasil cetak foto dengan efek lebih mengkilau. Jenis kerta cetak foto ini sangat cocok untuk jenis foto yang memiliki resolusi tinggi.
b)      Double Side Paper. Dua bagian dari kertas ini depan maupun belakang dapat digunakan. Hasil cetafoto dengan kertas ini cenderung tidak mengkilau dan doff, namun masih tetap akan terlihat bagus.
c)      Laster Photo Paper. Kertas ada efek kulit jeruk dan juga doff, dan kelebihan kertas foto ini adalah kualitas kertas cetak foto yang dapat bertahan lama dan tidak mudah pudar dari segi warna.
d)     Glossy Photo Paper. Kertas foto ini digunakan untuk cetak foto standard dan banyak digunakan oleh studi cetak foto kecil. Kualitas kerta cetak foto ini warna nya yang putih dan mengkilap.
e)      Inkjet Paper. Kualitas jenis kertas foto ini lebih bagus dari pada HVS  biasa, karena ini terletak pada kualitas tinta yang prima dan bagus, selain itu lebih cepat kering.
f)       Sublim Paper. Kertas cetak foto ini banyak digunakan untuk media untuk memindahkan foto atau gambar ke kaos.

6.       Pemilihan Teknologi Cetak
Selain pemilihan kertas yang tepat, mengetahui teknologi cetak yang akan digunakan pada foto/desain juga sangat membantu dalam kaitannya menjaga kualitas foto saat dicetak. Beberapa teknologi cetak yang biasa digunakan pada foto/desain adalah; Cetak Color Sensitive Coating, Cetak Konvensional (Offset, Gravure, Flexo), dan Cetak Digital Printing (Digital Offset, Inkjet, Electrophotography, dsb.) Dari bermacam-macam teknologi tersebut, semua mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri.

Dengan pengethuan yang banyak tentang cetak, fotografer atau desainer lebih bisa mengontrol foto/desainnya sehingga bisa mencapai hasil maksimal. Tentunya butuh jam terbang yang tinggi untuk mengetahui satu persatu tentang macam-macam media dan teknologi cetak, tapi dengan tips-tips di atas diharapkan fotografer/desainer lebih cepat mengetahui dan semangat untuk mencobanya.
Salam Kreatif