Monday, February 6, 2017

Memahami Color Mode dan Color Space Pada Hasil Foto Digital



Memahami Color Mode dan Color Space Pada Hasil Foto Digital

 Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.


Pada dunia fotografi modern yang serba canggih dan serba berwarna warni, menuntut fotografer memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki atau dikuasai oleh orang kebanyakan. Mulai dari rumitnya masalah teknis pemotretan hingga pemahaman warna yang dihasilkan oleh kamera hingga hasil karya outputnya. Tapi pada era modern saat ini atau sering disebut era digital bisa dikatakan lebih mudah karena fotografi bisa dinikmati dan dilakukan oleh semua orang. Namun perlu di perhatikan semakin mudahnya penguasaan terhadap kamera semakin besar pula tuntutan untuk menciptakan sebuah seni fotografi yang berkualitas, unik, dan berbeda.
Warna adalah sebagian dasar dari fotografi, banyak faktor yang berpengaruh pada foto warna. Pada saat dinikmati, sebuah karya foto harus dilihat sebagai sebuah kesatuan, tapi sebetulnya di dalam karya tersebut banyak elemen yang dikomposisikan dan setiap elemen ini mempunyai peran sendiri-sendiri. Seorang fotografer yang baik harus dapat memahami karakteristik dari setiap elemen yang ada dan mengerti apa yang akan dilakukan terhadap hasil foto tersebut setelah proses pemotretan selesai. Apakah foto itu akan melalui tahap editing atau langsung di cetak. Jika harus melalui tahap editing, maka elemen apa saja dalam foto tersebut yang harus di proses untuk penyempurnaan. Pada akhirnya semua elemen itu harus dapat terlihat sebagai kesatuan yang membentuk sebuah karya fotografi yang bisa dinikmati.
Karena kita berhubungan dengan fotografi dan software editornya hampir setiap hari, maka kita juga pasti mengakrabi salah beberapa elemen penting ini di dalamnya. Untuk dapat memahami elemen-elemen tersebut maka akan dibahas beberapa elemen yang merupakan faktor yang akan mempengaruhi warna dalam sebuah karya fotografi. Faktor - faktor ini pasti selalu ada pada setiap foto warna digital, karena segala sesuatu yang mempunyai warna pasti mempunyai tingkat hue, saturation, dan lightness.
Hue adalah apa yang biasanya kita sebut sebagai ‘warna’ dalam bahasa sehari-hari. Untuk pelukis, istilah ‘hue’ berarti kombinasi dari warna-warna dasar; dengan kata lain, merah, hijau, biru atau kuning (RGB). Sementara fotografer biasanya membayangkan hue sebagai satu warna tertentu.
Saturation menunjukkan intensitas dari hue. Warna-warna dasar yang terang adalah warna dengan saturation tinggi, sementara warna-warna pastel saturation-nya rendah. Monochrome (hitam dan putih) seluruhnya tidak memiliki saturation karena tidak punya intensitas warna di dalamnya. Pada karya foto saturasi yang berlebihan akan menghasilkan gambar dengan warna yang tidak alami, sedangkan desaturasi secara total akan menghasilkan foto yang hanya memiliki daerah terang dan gelap (hitam putih).
Lightness yang juga sering disebut juga sebagai ‘value’ atau ‘tone’ berhubungan dengan tajam atau tidaknya sebuah warna, atau tingkat hitam atau putih pada skala warna. Sebuah warna dengan value yang rendah berarti lebih dekat dengan hitam, sementara yang memiliki value tinggi lebih dekat dengan putih.
Berikut diagram penggambaran detail tentang hue, saturation, dan lightness.
(Sumber gambar: http://www.drmoron.org )
Ketiga elemen di atas sebenarnya sudah sangat familiar bagi para editing foto. Namun untuk mengakomodasi elemen-elemen diatas, dunia fotografi digital yang didukung oleh teknologi editing foto digital ada sesuatu yang perlu dipahami oleh fotografer, yaitu tentang Color Mode dan Color Space (Color Profile). Pemahaman akan perbedaan kedua hal ini sebenarnya merupakan hal yang sangat mendasar dalam fotografi dengan foto editing. 

Color Mode dan Color Space
 Pemahaman tentang perbedaan Color Mode dan Color Space (Color Profile) dulunya memang tidak terlalu dibutuhkan, tapi seiring kebutuhan jika sering melakukan scan foto atau memotret sendiri, lalu mengedit nya untuk kemudian di cetak. Proses scan/memotret, edit dan cetak ini membutuhkan konsistensi pemilihan Color Mode dan Color Space agar pada hasil akhir nanti warna yang didapat sesuai dengan harapan. Pada artikel kali ini dicoba untuk menggali pemahaman tentang Color Mode dan Color Space berdasarkan software editing foto yang standard.
Color Mode
Color mode merupakan salah satu hal utama yang membedakan antara gambar digital dan gambar analog, maksudnya gambar digital dibentuk oleh cahaya maka gambar analog terbentuk dari tinta. Dasar pemahaman inilah yang menjadi landasan dari Color Mode. Cahaya yang yang merupakan warna additive membentuk gambar digital terdiri dari 3 warna yaitu Red, Green dan Blue (RGB), sedangkan tinta (warna subtractive) membentuk gambar analog terdiri dari 4 warna yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black (CMYK). Tapi pada saat sebuah gambar CMYK ditampilkan dilayar monitor, sesungguhnya gambar tersebut ditampilkan dalam mode RGB, karena semua monitor menampilkan gambar dari cahaya.
Color Space (Color Profile)
Color Space adalah rentang jangkauan warna, sedangkan Color Profile adalah metode penyimpanan rentang warna tersebut secara digital. Dalam penerapannya keduanya dilabeli nama yang sama, yaitu: Adobe RGB Color Space. Ada banyak Color Space yang dikenal, namun hanya beberapa jenis Color Space yang mungkin paling sering kita gunakan, yaitu ProPhoto RGB, Adobe RGB, sRGB, dan lain-lain. Namun pada kamera digital sekarang, biasanya tersedia menu untuk memilih color space yang diinginkan fotografer, yaitu sRGB dan Adobe RGB, keduanya bisa digunakan, tapi ada perbedaan diantara keduanya  yang harus diperhatikan.

Berikut di bawah ini gambaran grafik color space yang menunjukkan luas warna yang bisa dicapai dari masing-masing color space.
 Color Space sRGB

 Color Space Adobe RGB

 Color Space ProPhoto RGB
 Perbandingan Color Space
(Sumber Gambar: http://fotografidesain.com )

Kemudian Color Space mana yang baik digunakan tergantung dari kebiasaan alur kerja fotografer. Berikutnya pertimbangan color space apa yang sesuai dengan gaya bekerja atau kebutuhan fotografer.
·    Adobe RGB atau ProPhoto RGB apabila fotografer yang selalu menggunakan format RAW karena menginginkan citra digital dengan kualitas data yang maksimal dari kamera. Kemudian harus didukung monitor yang support dengan AdobeRGB atau ProPhotoRGB. Selain itu seting color profile di aplikasi post processing juga disesuaikan dengan color space pilihan. Tapi tentunya jika output foto hanya untuk ditampilkan di web/internet jangan lupa convert color space ke sRGB karena mayoritas web browser didunia ini hanya mampu menampilkan gambar dengan color space sRGB saja.
·     sRGB. Apabila sebagian besar karya foto Anda selalu berakhir di web/internet. Atau apabila Anda tidak mau dipusingkan dengan proses konversi dan ingin spektrum warna yang konsisten dari awal sampai akhir. Tentu informasi warna yang Anda miliki tidak sebanyak Color Space yang lain, tapi faktanya adalah foto-foto bagus yang Anda lihat di Flickr, 500px, 1x dll sebagian masih menggunakan sRGB.
Color Space sRGB dan Adobe RGB tidak berpengaruh pada format RAW, karena memang tujuan memakai RAW merekam lebih banyak data dan informasi dari foto yang diambil, oleh karena itu file foto RAW cukup besar size-nya, dan tidak semua OS computer bisa langsung membukanya. Sebenarnya tujuan utama memakai file RAW adalah agar masih bisa edit banyak hal seperti White Balance, pasang filter ND dll.

Mencetak Foto
Perlu diketahui, color space Adobe RGB memang mampu menyimpan warna warni lebih banyak dari sRGB, tapi bukan berarti gambar lebih bagus dengan warna yang lebih banyak, tapi jika untuk dicetak menggunakan printer atau alat cetak dalam skala besar, gambar yang muncul diubah sepenuhnya ke color space lain, yaitu CMYK (Cyan, Magenta, Yellow and Black) yang bahkan lebih kecil dari sRGB. Jadi penting sekali memiliki sebanyak mungkin warna pada proses editing foto/gambar sebelum color space diubah untuk reproduksi CMYK (dicetak). Sehingga pada hasil cetakan warna akan terihat semaksimal mungkin.
Begitu juga dengan color space sRGB biasanya digunakan oleh gambar yang akan di serahkan ke lab foto untuk di cetak dalam berbagai ukuran, dan printer  yang digunakan oleh lab foto  sendiri adalah perangkat sRGB. Jika sama sekali tidak memahami akan banyak kekurangan dalam memproduksinya, bahkan kemungkinan mesin tidak dilengkapi fitur mengenal file RGB dan operator mesin akan mengolah gambar ke file sRGB secara manual sebelum ia mencetak. Internet  juga perangkat sRGB, foto yang di pasang pada web seharusnya sRGB  kalau tidak ingin gambarnya kurang baik atau warnanya sedikit tidak layak. Kecuali  menggunakan monitor pilihan yang dibuat khusus untuk color space sRGB. Intinya adalah tidak ada masalah dengan sRGB color space, jika tujuan mengambil foto hanya untuk sekedar memajangnya pada wall (monitor atau LCD) dan tidak untuk dicetak, maka gunakan color space sRGB.

Konsep Konversi Warna untuk Cetak
Pada mode warna (color mode), ada warna-warna yang ada di CMYK yang tidak bisa direpresentasi RGB dengan akurat, misalnya warna yellow 100%, cyan 100% dan magenta 100%. Sebaliknya ada cukup banyak warna-warna RGB yang tidak akan pernah ditampilkan dengan akurat misalnya ungu, hijau menyala, dll. CMYK adalah model warna tinta dan warna-warnanya tergantung pada pigment pada tinta & substrate yang dicetak. Sedangkan RGB adalah model warna cahaya yang dipakai untuk “input devices” seperti scanner maupun “output devices” seperti display monitor, dan warna-warnanya tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti; scanner, kamera digital, dan monitor.
Pada kebanyakan Printer yang berkualitas baik untuk mencetak foto, baik itu inkJet Printer, Color Laser, ataupun Fujicolor Lab atau Kodak System Lab, secara umum akan mencetak dengan Color profile sRGB. Sedangkan Printer seperti Large Format Printer, Color Laser Printer dan InkJet dengan 4 warna atau lebih dapat dirubah format file-nya dapat menggunakan Adobe RGB maupun sRGB, akan tetapi sangat disarankan untuk mencetak pada color profile sRGB.
Kemudian pada saat membuka file foto terkadang ada notifikasi: "Do You Want to Use Embedded Profile?" Apakah anda akan menggunakan profile yang melekat pada file tersebut ? Ya / Tidak. Notifikasi tersebut akan muncul jika pada Photoshop sudah disetting dengan Color Profile yang berbeda dengan file foto. Misal setting pada Photoshop color profilenya adalah Adobe RGB sedangkan file fotonya menggunakan sRGB, maka akan ditanya apakah menggunkan color profile yang sesuai dengan file foto ataukah file tersebut akan dirubah color profilenya sesuai dengan yang digunakan oleh setting pada Photoshop. Jika ingin mencetak foto pada kertas Photo atau InkJet Photo Paper, disarankan menyamakan color profile pada Photoshop dan color profile pada printer, dan yang terbaik adalah menggunakan sRGB.
Jika mencetak file berprofile Adobe RGB (yang memiliki rentang saturasi warna lebih luas) pada printer yang berprofile sRGB, maka hasil print out akan nampak seolah olah lebih gelap, dimana yang merah akan nampak lebih merah, yang biru akan nampak lebih biru (printer Color Laser). Jika dicetak pada printer inkJet 6 warna atau cetak di Photo Lab, warna justru akan memudar atau istilahnya adalah washed out karena printer jenis ini akan mencoba mengkoreksi kelebihan saturasi pada profile Adobe RGB.
Demikian semoga bermanfaat, salam kreatif.
(dari berbagai sumber)

Tuesday, January 17, 2017

Fotografi Komersial Sebagai Kebutuhan Pengembangan Bisnis



Fotografi Komersial Sebagai Kebutuhan Pengembangan Bisnis
Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.

 

Fotografi berkembang pesat dan telah mengubah wajah dunia menjadi dunia visual dengan melalui berbagai upaya inovasi teknologi maju. Sehingga menghasilkan berbagai imaji visual yang tadinya tidak pernah terbayangkan oleh manusia karena keterbatasan indera visualnya. Seiring perkembangan tersebut, Fotografi Komersial yang merupakan cabang dari fotografi profesional, lebih banyak berperan memenuhi kebutuhan industri dalam periklanan, penjualan, peragaan, untuk kebutuhan pada suatu obyek media massa ataupun publikasi khusus. Sebenarnya dari istilah Fotografi Komersial artinya sangat luas, hampir semua karya foto yang dijual adalah merupakan fotografi komersial, namun kita batasi untuk kepentingan industri atau bisnis deperti di atas.

Jika dilihat dari sejarah Fotografi Komersial, pertama kali dilakukan oleh mereka yang menguasai teknologi Daguerrotype (salah satu bentuk awal fotografi) dan menjualnya ke pasar orang kelas menengah yang tidak mampu untuk memiliki sebuah lukisan diri atau keluarga, karena memang pada awalnya fotografi hanya digunakan sebagai pengganti lukisan. Permintaan khusus untuk foto portrait, di era awal tahun 1850-an dan meluas pada 1890-an, banyak orang belajar foto dan studio dibuka atau berkeliling untuk membuat foto portrait. 












Karya foto portrait dengan Daguerrotype pada pertengahan abad 19












Perusahaan atau produsen yang notabene adalah pengiklan, menggunakan foto hanya ketika ada kebutuhan untuk memberi pengetahuan terhadap calon pelanggan tentang manfaat produk. Namun setelah Perang Dunia I industri fotografi komersial berkembang dengan menggunakan foto untuk kampanye pemasaran. Dan setelah Perang Dunia II, ada pertumbuhan luar biasa dalam jumlah anggaran perusahaan yang dialokasikan untuk iklan.

Fotografi komersial telah lama memiliki tempat yang signifikan dalam sejarah fotografi, dan telah membantu mengembangkan pemahaman yang lebih kompleks dari keragaman dalam fotografi modern. Pada pelaksanaannya di lapangan, biro iklan sebagai mediator mengembangkan gaya mereka masing-masing dengan menggunakan media fotografi sehingga muncul harapan konsumen dalam mengembangkan bisnisnya. Fenomena itu terus mendorong pengiklan dan biro iklan untuk mengeksplorasi berbagai jenis pengembangan karya iklan dengan kombinasi teknologi foto, digital imaging, hingga modeling 3D. Dan hingga kini industri periklanan masih terbuka untuk terobosan berikutnya dalam media presentasi yang akan  meningkatkan kualitas tampilan visual ke khalayak umum.

Keunggulan Media Fotografi
Pada dasarnya dunia fotografi mempunyai keunggulan pada daya komunikatifnya yaitu kesanggupan teknik ini dapat dipercaya rekamannya (believability) dari peristiwa nyata dan dapat mengungkapkan suasana tertentu bagi pengamatnya. Fotografi juga dapat mempertinggi kesan atau tampilan visual obyek sehingga kesan yang ditampilkan dengan fotografi lebih indah daripada keadaan yang sesungguhnya. 

Menurut Dale’s Cone of Experience, media visual memiliki 20% tingkat keefektifan yang lebih tinggi dibandingkan sekedar membaca tulisan. Atau dengan kata lain, orang-orang akan mengingat sebanyak 30% dari apa yang mereka lihat (orang-orang hanya mengingat 10% dari apa yang mereka baca). Berikut tiga kelebihan media visual Fotografi:
  1. Lebih Realistik dan Konkret
Media foto adalah media yang realistik dan konkret karena merupakan perekaman nyata dari suatu obyek atau peristiwa, bukan penggambaran atau ilusi. Media foto menampilkan tampilan suatu obyek dengan sebenarnya atau apa adanya. Sebagai perbandingan, media foto berbeda dengan media ilustrasi/sketsa yang merupakan upaya penggambaran kembali dari suatu obyek.  
  2. Mengatasi Keterbatasan
Media foto dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan penglihatan. Sebuah foto bisa menampilkan obyek/peristiwa yang terjadi di suatu tempat pada satu waktu tertentu, dan kita bisa menyaksikan kembali suatu obyek/peristiwa yang berada dimanapun dan terjadi kapanpun (tentunya dalam waktu yang lampau). Selain itu, mata manusia hanya bisa melihat sesuatu yang berada di depan dan sekelilingnya dengan jarak pengamatan yang amat terbatas. Dengan sebuah foto, bisa diambil di tempat manapun, asal itu memungkinkan, juga dengan tingkat pencahayaan dan pembesaran yang dapat disesuaikan. Jadi media foto telah berhasil mengatasi keterbatasan kemampuan pengamatan mata manusia. Sehingga melalui media ini, kita bisa melihat sesuatu yang berada dimanapun, baik itu jauh, dekat, di kedalaman laut, di angkasa luar dll.
  3. Mudah Dilakukan
Membuat karya foto tidaklah sulit, siapapun bisa menekan tombol kamera untuk membuat sebuah foto. Terlebih lagi dengan kehadiran teknologi fotografi digital yang dilengkapi fasilitas-fasilitas yang memudahkan fotografer sehingga hasil foto yang bagus kini bukan lagi didominasi para fotografer profesional saja. Kemudian karena fotografi sudah semakin memasyarakat, para produsen kamera dan perangkat fotografi lainnya melakukan produksi secara massal dan besar-besaran. Sehingga perangkat fotografi menjadi mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau. Harga untuk mencetak sebuah foto pun semakin murah, sehingga fotografi sudah menjadi bidang yang mudah dilakukan dan bisa dilakukan siapapun.

Fotografi Iklan (Advertising)
Fotografi Iklan pada dasarnya adalah salah satu bentuk seni visual. Namun, perlu diketahui bahwa industri periklanan tumbuh pada akar konseptualisasi kreatif, dan promosi-pemasaran produk melalui gambar diam harus benar-benar mengesankan menarik pandangan bagi yang melihatnya langsung. Media Fotografi dapat ditemui pada berbagai platform seperti media cetak, media online dan media digital. Surat kabar atau majalah, bahkan internet, banyak ditemukan gambar-gambar produk yang dilakukan oleh fotografer untuk agen.
Dalam Fotografi komersial atau iklan bisa bersifat:
  1. Hard selling: menjual produk secara langsung
  2. Soft selling: menjual produk tetapi tidak dapat melihatnya secara langsung, biasanya yang dijual adalah sebuah pencitraan

Karakteristik foto iklan tersebut harus mempunyai daya tarik yang baik bagi iklan untuk mempengaruhi khalayak dengan kualitas tampilan yang dapat menggugah keinginan untuk merasakan, menikmati secara suguhan seperti yang ditampilkan secara realistik dalam iklan tersebut. Karena pada dasarnya bahasa visual fotografi adalah realistik sehingga memungkinkan dapat dimengerti oleh khalayak pada umumnya.

Kesempatan yang ditawarkan foto iklan tersebut merupakan cara pendekatan komunikasi visual untuk mendekatkan produk dengan keunggulan yang ada kepada khalayak agar lebih tertarik dan kemudian muncul keinginan untuk merasakannya atau memilikinya. Beberapa tema pendekatan yang sering disentuh oleh fotografi dalam iklan antara lain, daya tarik kelezatan makanan/minuman, seks, citra diri, gaya hidup dan modernitas.

Dalam pembuatan foto iklan, seorang fotografer biasanya mendapat sebuah arahan dari seorang pengarah kreatif (Creative Director) atau pengarah seni (Art Director) dan Stylist. Tapi bisa juga Fotografer sendiri itulah yang mempunyai ide dasar seperti halnya Art Director atau Creative Director yang paling mengetahui sampai sejauh manakah sebuah konsep itu dipahami agar meminimalisir sesuatu yang tidak diinginkan.

Fotografi Iklan pada prakteknya mempunyai beberapa jenis kegunaan:
  1. Editorial Fotografi adalah foto yang dibuat untuk mengilustrasikan suatu cerita atau ide dalam kontek sebuah penerbitan atau majalah.
  2. Coorporate Fotografi; biasanya foto yang dibuat digunakan sebagai alat publik relation dari korporasi-korporasi besar, biasanya berbentuk company profile.
  3. Stock Fotografi adalah membuat stok foto untuk dijual ke agency-agency stok foto.

Fotografi Desain
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan, fotografi komersial juga makin luas peranannya pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan profesi, antara lain pada disiplin desain komunikasi visual. Pada bidang desain komunikasi visual, foto sangat berkaitan erat dengan branding sebuah produk ataupun institusi (seperti iklan majalah, iklan surat kabar, company profile, brosur, katalog, poster, corporate material promosi, dan lain-lain). 

Foto dalam Desain Komunikasi Visual digunakan untuk membantu proses komunikasi, menggambarkan suatu keadaan dan, atau produk. Contohnya, foto iklan obat demam anak-anak yang menggambarkan keadaan si anak sebelum dan sesudah meminum obat tersebut. Foto dibuat berdasarkan suatu konsep desain untuk mencapai suatu tujuan sesuai dengan keinginan Desainer (Creative Director) atau pengguna. Biasanya, foto yang dibuat untuk keperluan suatu iklan, yaitu suatu pesan mengenai suatu produk/jasa yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh perusahaan terkait, dan ditujukan kepada sebagian atau keseluruhan masyarakat. Foto tersebut harus produktif (dalam arti membangkitkan minat), komunikatif, dan menghasilkan respon melalui daya tarik visualnya dalam mendukung suatu iklan.

Kemudian dikenal ada Konsep Desain yang harus dirancang matang sebelumnya. Pertama, konsep desain terbentuk berdasarkan pembicaraan dengan klien mengenai kelebihan-kelebihan apa yang ingin ditampilkan, bagaimana janji-janji yang akan diberikan, dan sebagainya. Kedua, merancang foto, dalam arti mencipta suatu wujud visual foto yang mempunyai maksud tertentu melalui pemecahan masalah dengan melibatkan pemikiran, perasaan, dan keterampilan. 

Sebenarnya, kebutuhan fotografi komersial (foto untuk keperluan menjual produk) belakangan ini semakin marak seiring berkembangnya teknologi informasi dengan beragamnya media sosial dan banyaknya pengguna yang semakin melek teknologi. Terlebih lagi teknologi fotografi di gadget (smartphone) juga terus dikembangkan dan disempurnakan. Dari kondisi tersebut banyak pengusaha kecil-menengah yang menggunakan jalan pintas untuk membuat sendiri foto-foto produk untuk dijual secara online. Tidak ada yang salah tentunya, tapi seiring pertumbuhan bisnis foto produk yang dijual tentunya tidak bisa asal-asalan, dan perlu pemikiran panjang untuk membuat semuanya lebih baik. Perusahaan yang semakin besar akan semakin berusaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas produknya, salah satunya dengan tampilan foto yang lebih terkonsep dan lebih tentunya lebih bagus. Dan jasa fotografi komersial akan juga semakin dibutuhkan.

Salam Kreatif