Friday, June 3, 2016

Kualitas Foto Untuk Dicetak



Kualitas Foto Untuk Dicetak

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si


Fotografi dalam hal ini sebagai salah satu media rekam dan media artistik sudah sedemikian mendalam pada benak masyarakat luas. Salah satunya pada dunia desain grafis atau desain komunikasi visual (DKV) masih menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan proses desain. Konsep desain grafis merupakan bagian dari identitas bisnis, misalnya aplikasi foto pada sebuah brosur atau poster yang baik akan dapat menarik calon pelanggan untuk mengambil dan membacanya sekaligus mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.
Karya Fotografi pada Desain Grafis dulunya lebih identik dengan karya dua dimensi yang dicetak pada berbagai macam media. Untuk mendapatkan beberapa perspektif mengenai karya foto dan kaitannya dalam proses cetak agar menghasilkan cetakan sesuai yang diharapkan, secara umum ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pemotretan maupun editing sebelum mencetaknya, seperti kamera, resolusi dan pemilihan jenis kertas, dan sebagainya.
Berikut ini beberapa tips bagaimana menjaga kualitas foto untuk dicetak, yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan desain grafis.

1.      Memilih Kamera
Hal paling mendasar sebelum membuat foto tentunya menentukan kamera yang digunakan. Kamera digital terkini sudah sangat beragam dan canggih, dari model kamera SLR, Mirrorless, Pocket, hingga Kamera Smartphone. Dan saat ini semua jenis kamera tersebut selalu dikembangkan dan hampir semua memenuhi standar umum kamera profesional. Sering terjadi hasil foto dari smartphone high-end terkadang lebih baik dibandingkan hasil dari kamera SLR dengan spesifikasi kurang baik. Hampir semua kamera terkini sudah memiliki sensor rekam yang besar, rata-rata diatas 10 megapixel.

Berikut tabel contoh hubungan ukuran megapixel kamera dengan dengan ukuran foto




Tentang megapixel, perlu diketahui bahwa banyak fotografer menyarankan memakai kamera bersensor besar adalah untuk kepentingan kualitas cetak-mencetak, bukan kepentingan kualitas secara artistik seperti warna, ketajaman gambar, dsb. Kamera dengan sensor megapixel semakin besar, semakin bisa membuat ukuran foto lebih besar untuk dicetak.
Untuk kepentingan kualitas foto pada masalah menangkap warna dan ketajaman gambar, lensa kamera lebih punya peranan untuk itu. Lensa kamera ibarat mata, kualitas lensa sangat mempengaruhi kualitas foto. Makanya sering terjadi memakai body kamera high-end dengan megapixel besar, namun menggunakan lensa yang sudah agak usang, maka hasil foto akan usang. Berbeda jika kamera dengan sensor biasa, tapi menggunakan lensa yang prima, hasil foto akan bagus.
Tidak kalah penting adalah pemilihan ukuran sensor body kamera, karena begitu banyak ukuran dengan spesifikasi yang berbeda pula. Ada yang ukuran sensor kecil megapixel besar, dan ukuran sensor besar tapi megapixel kecil.

Berikut contoh ukuran sensor


Semakin besar ukuran sensor yang digunakan, maka hasil gambar dari kamera tersebut akan semakin berkualitas juga, karena jumlah pixel yang lebih besar akan menghasilkan noise yang lebih sedikit. Oleh karena itu, gambar yang memiliki ukuran pixel lebih besar akan terlihat jauh lebih jelas dan terang.

2.      Menentukan Ukuran Foto yang Efektif
Kesalahan umum dalam menggunakan foto untuk kepentingan desain adalah ukuran setup yang salah. Seringkali, setelah puas dengan desain yang telah dibuat, mereka harus kecewa karena pihak percetakan mengembalikan desain mereka dengan alasan bahwa setup ukuran yang mereka buat tidak sesuai dengan ukuran output.
Misalnya, aplikasi foto untuk desain brosur berukuran A4 (21 x 29,7 cm), namun desain tersebut dicetak pada kertas berukuran Letter (21,6 x 27,9 cm) atau yang lebih besar. Jika kesalahan setup ukuran ini tetap dipaksakan, maka pihak percetakan harus meregangkan atau mengecilkan tata letak brosur agar sesuai dengan kertas. Hal ini tentu saja akan berimbas pada kualitas resolusi cetak dan proporsi tata letak brosur.
Dalam pengambilan foto biasakan memakai ukuran terbesar pada kamera, namun ukuran foto yang diaplikasikan pada desain hendaknya disesuaikan kebutuhan cetak. Ukuran foto diedit tidak terlalu besar sehingga sia-sia dan memperberat dalam proses desain, juga tidak terlalu kecil yang mengakibatkan hal yang lebih fatal yaitu gambar pecah.
Hal lain adalah image resolution, atau resolusi gambar dapat diartikan sebagai kerapatan pixel dalam sebuah gambar, yaitu kepadatan pixel (pixel density) yang mana pixel ini menyusun suatu image yang bisa berupa foto atau elemen grafis. Semakin padat pixel yang menyusun suatu image maka semakin detil dan tajam image tersebut. Image resolution dihitung dengan PPI (pixel per inch) walaupun banyak orang menyebut dengan istilah DPI (dot per inch).
Tidak semua media cetak image resolution yang digunakan 300ppi. Untuk media cetak yang akan dilihat dengan jarak pandang relatif jauh bisa digunakan image resolution kurang dari 100ppi, sebagai contoh spanduk dan papan iklan. Untuk spanduk, dari jarak minimal 3 meter kita sudah bisa melihat dengan jelas. Untuk papan iklan lebih variatif, ada papan iklan dengan ukuran besar sehingga jarak pandang 100 meter sudah terlihat jelas, ada papan iklan iklan dengan ukuran sedang dengan jarak pandang 50 meter sudah terlihat jelas. Semakin besar suatu media cetak semakin kecil kebutuhan akan detil dan ketajamannya sehingga semakin kecil pula image resolution yang digunakan.
Resolusi Untuk Banner, X-Banner, Baliho dll :
Ukuran sekitar 10 meter = 35dpi
Ukuran sekitar 5 meter = 100 dpi
Ukuran sekitar 2 meter = 150 dpi
Ukuran sekitar 1 meter = 200 dpi
Ketika mendesain brosur di komputer, penggunaan resolusi 72 dpi atau 300 dpi memang tidak terlihat perbedaanya. Namun, saat desain tersebut dikirim ke percetakan, maka hasilnya akan sangat jauh berbeda.

3.       Sofware Editing Foto
Penggunaan software editing foto tidak bisa dihindari untuk memaksimalkan tampilan foto. Untuk editing dasar adalah aplikasi bawaan dari kamera untuk editing format mentah (RAW) untuk mengoptimalkan White Balance. Namun setelah melewati editing dasar tersebut, seringkali fotografer atau desainer menggunakan software editing untuk desain seperti Photoshop. Memang Adobe Photoshop sering direkomendasi untuk editing foto karena mempunyai fitur-fitur yang standar baik secara kualitas digital maupun kualitas hasil cetak.
Namun banyak sofware lain yang beredar untuk editing foto, banyak yang menawarkan effect-effect spesial, namun hindarilah software-software yang instan atau aplikasi-aplikasi untuk sosial media yang mengutamakan efisiensi dan kecepatan, karena dipastikan kualitas foto (khususnya ukuran resolusi) akan “turun” disesuaikan media yang dipakai.

4.      Mode Color
Untuk standar cetak, tentunya mode color pada foto selalu menggunakan mode CMYK, karena semua konsep printing menggunakan tinta dasar CMYK. Bahkan jika diperlukan tinta tambahan juga menggunakan mode CMYK dengan ditambah spot color sesuai keinginan. Tapi khusus pada teknologi cetak foto studio/lab yang menggunakan teknologi Color Sensitive Coating, banyak yang menyarankan foto tetap menggunakan mode color RGB karena prinsip cetaknya dengan menyinari media cetak. RGB adalah mode untuk warna cahaya, sehingga diharapkan sinar yang ditembakkan ke media kualitasnya seperti tampak pada layar monitor (RGB).
Ada juga printer-printer dengan komposisi tinta yang kompleks, misalnya CMYK plus light magenta dan light cyan atau jenis tinta yang lain, banyak yang menyarankan mode color tetap di RGB karena gamut warna RGB lebih luas dibanding CMYK, diharapkan warna lebih cerah. Namun tentunya lebih baik dikonsultasikan lebih dulu dengan operator mesin yang lebih tahu kapasitas dan kualitas cetak mesin tersebut.

5.       Pemilihan Media Cetak
Pemilihan media cetak atau kertas yang tepat sangat mempengaruhi hasil cetakan dari foto atau desain aplikasinya. Jika ingin mencetak pada kertas tipis, sebaiknya menghindari penggunaan warna-warna blok pada foto atau desainnya. Begitu pula jika ingin mencetak menggunakan kertas dengan permukaan halus, licin, kasar, atau buram, maka foto/desain harus menyesuaikan dengan jenis kertas yang akan dipergunakan.
Beberapa jenis kertas yang biasa digunakan untuk mencetak foto adalah Kertas Foto.
Kertas foto yang dimaksud adalah kertas untuk mencetak foto di studio/lab foto dengan teknologi Color Sensitive Coating, yang mana kertas disinari cahaya sehingga lapisannya bereaksi kemudian diproses hingga gambar muncul.
Kemudian jika foto sudah diaplikasikan pada desain ada beberapa media umum yang sering dipakai, yaitu Art Paper dan Art Carton. Mengetahui jenis-jenis kertas yang digunakan dalam dunia percetakan, akan sangat menguntungkan untuk memastikan hasil cetakan sesuai dengan desain yang dibuat.
Ada beberapa jenis kertas cetak foto antara lain :
a)      Premium Glossy Photo Paper. Kertas cetak foto ini mampu memberikan hasil cetak foto dengan efek lebih mengkilau. Jenis kerta cetak foto ini sangat cocok untuk jenis foto yang memiliki resolusi tinggi.
b)      Double Side Paper. Dua bagian dari kertas ini depan maupun belakang dapat digunakan. Hasil cetafoto dengan kertas ini cenderung tidak mengkilau dan doff, namun masih tetap akan terlihat bagus.
c)      Laster Photo Paper. Kertas ada efek kulit jeruk dan juga doff, dan kelebihan kertas foto ini adalah kualitas kertas cetak foto yang dapat bertahan lama dan tidak mudah pudar dari segi warna.
d)     Glossy Photo Paper. Kertas foto ini digunakan untuk cetak foto standard dan banyak digunakan oleh studi cetak foto kecil. Kualitas kerta cetak foto ini warna nya yang putih dan mengkilap.
e)      Inkjet Paper. Kualitas jenis kertas foto ini lebih bagus dari pada HVS  biasa, karena ini terletak pada kualitas tinta yang prima dan bagus, selain itu lebih cepat kering.
f)       Sublim Paper. Kertas cetak foto ini banyak digunakan untuk media untuk memindahkan foto atau gambar ke kaos.

6.       Pemilihan Teknologi Cetak
Selain pemilihan kertas yang tepat, mengetahui teknologi cetak yang akan digunakan pada foto/desain juga sangat membantu dalam kaitannya menjaga kualitas foto saat dicetak. Beberapa teknologi cetak yang biasa digunakan pada foto/desain adalah; Cetak Color Sensitive Coating, Cetak Konvensional (Offset, Gravure, Flexo), dan Cetak Digital Printing (Digital Offset, Inkjet, Electrophotography, dsb.) Dari bermacam-macam teknologi tersebut, semua mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri.

Dengan pengethuan yang banyak tentang cetak, fotografer atau desainer lebih bisa mengontrol foto/desainnya sehingga bisa mencapai hasil maksimal. Tentunya butuh jam terbang yang tinggi untuk mengetahui satu persatu tentang macam-macam media dan teknologi cetak, tapi dengan tips-tips di atas diharapkan fotografer/desainer lebih cepat mengetahui dan semangat untuk mencobanya.
Salam Kreatif

Monday, April 18, 2016

Teknis Cetak dalam Mendesain Logo



Pertimbangan Teknis Cetak dalam Mendesain Logo
Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si

Logo sangat penting keberadaannya saat ini dimana hampir semua instansi butuh identitas agar bisa dikenali dengan mudah oleh masyarakat baik untuk kebentingan bisnis maupun non bisnis. Semua pengguna logo menginginkan identitas dirinya menjadi perhatian, selain itu juga digunakan sebagai simbol jati diri dengan memasukkan visi misi instansi tersebut agar lebih percaya diri, karena terkadang secara sekilas bagus tidaknya perusahan, instansi, atau produk bisa dikenali dari bagus tidaknya logo yang dipamerkan.
Menurut David E. Carter “logo adalah identitas suatu perusahaan dalam bentuk visual yang diaplikasikan dalam berbagai sarana fasilitas dan kegiatan perusahaan sebagai bentuk komunikasi visual. Logo dapat juga disebut dengan simbol, tanda gambar, merek dagang (trademark) yang berfungsi sebagai lambang identitas diri dari suatu badan usaha dan tanda pengenal yang merupakan ciri khas perusahaan”.
Pada awalnya desain logo dikenal pertama di negeri Yunani kuno dengan penggunaan lambang yang terdiri atas satu atau dua huruf untuk mewakili inisial nama seseorang atau tempat untuk digunakan sebagai alat tulis atau tanda simbol. Mata uang koin Yunani dan Romawi memberi arti penting dalam melahirkan logo yang diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan. Kemudian di jaman pertengahan, logo banyak terlihat pada penggunaan hiasan gereja dan keperluan komersil. Pada abad 13, penggunaan bentuk simbol sederhana ini telah meningkat pada merk dagang untuk jual beli. Contoh awal desain logo ini termasuk tanda untuk rumah pejabat, pengrajin emas, pembuat kertas dan kebangsawanan. Kemudian pada tahun 1700-an, tiap-tiap pedagang produsen distributor dan pengecer punya satu merk dagang atau cap.
Sekarang logo perusahaan telah menjadi wajah dari bisnis dan perekonomian. Masyarakat umum telah menjadi sangat mau merespon terhadap logo, arti logo, dan apa yang diimplementasikannya. Karena perbedaan produk dan jasa tersedia, kebutuhan untuk inovatif dan kepahaman identitas desain logo dan perusahaan adalah pusat kesuksesan sebuah perusahaan.
Pada kesempatan ini khusus bagaimana membuat logo dilihat dari sisi teknis cetak. Sudah begitu banyak tips-tips membuat logo yang baik, dari teori dasar hingga implementasinya secara sederhana cara membuatnya. Akan tetapi masih banyak juga kasus-kasus logo yang tampil tidak maksimal. Secara artistik dan filosofi logo sudah memenuhi syarat, begitu di aplikasikan ke dalam berbagai macam media terjadi kesalahan yang tentunya tidak diinginkan oleh desainer maupun pemilik logo tersebut. Tulisan ini mencoba mengupas sedikit apa yang terjadi dan mencoba untuk memecahkan masalah sehingga bisa bermanfaat.
Dalam membuat Logo banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk memenuhi kriteria logo yang baik dari berbagai sudut pandang. Faktor-faktor tersebut adalah:
1.        Faktor Filosofi
Masalah filosofi yang dimaksud adalah pemikiran dasar pembuatan logo, mencakup visi misi perusahaan, kepercayaan sang pemilik perusahaan, budaya setempat dan pengaruhnya ke budaya lain, konsep marketing hingga feng sui. Misalnya sebuah logo disebut baik adalah yang mengemban visi misi perusahaan ke depan, misalnya bergambar kapal karena mempunyai makna perjalanan untuk maju dan seterusnya. Kemudian hindari juga pengaruhnya pada budaya di luar, jangan sampai logo tersebut mempunyai arti buruk bagi budaya lain yang tidak diketahui sebelumnya.
Konsep marketing sering juga menjadi acuan pembuatan sebuah logo, terutama logo produk. Misalnya produk itu akan dijual dimana saja, target pasarnya siapa, katagori produknya seperti apa, dan sebagainya. Desainer harus mempertimbangkan itu semua agar logo benar-benar menjadi sesuatu yang baik dari segala sisi. Bahkan tidak menutup kemungkinan merancang logo tidak lepas dari masalah kepercayaan dan aturan-aturan yang berbau mistis, karena memang sering pelaku bisnis atau pimpinan mempunyai kepercayaan pribadi yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.
2.        Faktor Artistik
Bagaimanapun logo adalah karya seni komunikasi visual yang bisa berupa teks, gambar, atau gabungan gambar dan teks dimana membutuhkan sentuhan seni agar terlihat indah. Sehingga logo harus juga mempertimbangakan aspek-aspek dasar seni rupa, misalnya psikologi warna tentang warna apa yang pas dengan kondisi. Jenis typografi yang disesuaikan konsep dan keterbacaan yang baik, penempatan objek dengan menganut teori komposisi keseimbangan, kesatuan, kesederhanaan dan sebagainya.
Merencanakan beberapa variasi dari Logo tergantung pada penggunaan, letak, proporsi, warna latar belakang. Seperti apakah logo itu akan terlihat ketika diletakkan pada latar belakang putih, pada latar belakang hitam atau berwarna, dan sejauh mana perubahan warna logo diperbolehkan. Pemilik bisnis harus bekerja dengan para desainer untuk menciptakan pedoman penggunaan merk atau aturan untuk menentukan apa yang benar atau salah dalam penggunaan logo baru. Sebutannya adalah graphic standart manual atau juga bisa menggunakan istilah brand identity guideline. Dipakai saat meletakkan desain logo pada sebuah media. Serangkaian peraturan dimuat dalam pedoman penggunaan logo yang dimaksudkan agar tidak ada ambiguitas dan kebingungan masyarakat terhadap logo brand baru.
3.        Faktor Teknis
Faktor teknis inilah yang akan banyak kita bahas. Pada faktor teknis ini yang diperhatikan adalah bagaimana logo bisa fleksibel dengan berbagai teknologi cetak.
a.         Vector
Membuat logo dari awal dipastikan memakai format vector dan disimpan sebagai master desain, dan jika ingin menggunakan dalam bentuk bitmap biasakan mengambil dari format vector tersebut diubah menjadi bitmap dan bukan sebaliknya. Hal ini penting karena logo sering diaplikasikan ke berbagai media dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Format gambar vektor akan memudahkan karena format ini tidak pecah saat diperbesar. Secara default logo harusnya mempunyai beberapa format file sehingga dapat dipakai pada tugas-tugas khusus. Misalnya eps, jpg, ai, cdr, svg, wmf, dan png transparan. Format file eps vektor diperlukan dipakai untuk media cetak. Format bitmap JPG file akan diperlukan untuk situs web, dan png file dapat digunakan dalam aplikasi Microsoft office seperti Word dan Powerpoint.
b.        Penggunaan Font/Typeface
Font yang digunakan untuk logo hendaknya perlu diperhatikan secara khusus, karena font yang beredar di internet maupun font-clip tidak sepenuhnya gratis. Karena font juga sebuah karya dari desainer dan ada hak ciptanya, biasanya digratiskan hanya untuk keperluan non komersial, tapi jika untuk komersial font tersebut tidak serta merta gratis. Tulisan pada logo lebih aman membuatnya dengan menulis/membuat bentuk tulisan sendiri (custom), bisa dilakukan dengan memodifikasi dari typeface yang telah ada atau membuat dari awal.
Selain itu, jika logo berupa logotype atau lebih mudahnya logo terdiri dari tulisan yang diubah sedemikian rupa sehingga lebih estesis perlu dites apakah sudah tepat jarak, ukuran dan bentuknya. Logo harus mudah dibaca pada ukuran kecil (secara default 18pt font). Apabila konsumen adalah para manula dan mereka yang tidak lagi mampu membaca tulisan dengan baik sebaiknya ini menjadi checklist penting. Jika logo tersebut sudah bisa dibaca dengan legibilitas dan readabilitas cukup sudah layak logo tersebut masuk dalam daftar pakai logo untuk perusahaaan.
c.         Warna CMYK
Dalam pembuatan logo biasakan memakai mode warna CMYK (cyan magenta yellow black) karena untuk standar produksi cetak, hampir semua teknologi cetak menggunakan mode warna CMYK. Gunakan komposisi warna CMYK tersebut untuk standar warna acuan, sedangkan untuk  keperluan publish di media elektronik, logo CMYK tadi diubah ke mode RGB (red green blue) bukan sebaliknya. Karena logo lebih banyak aplikasinya untuk media-media yang tercetak dan jika standar warna memakai mode RGB, nanti jika ada keperluan dicetak, warna tinta (CMYK) akan susah mencapai warna yang ditampilkan pada mode RGB sehingga warna cetak cenderung lebih “drop” dan mengecewakan.

d.        Warna Spesial
Desain logo yang berwarna-warni mungkin terlihat bagus dan terlihat lebih memikat pandangan setiap mata orang, hal ini juga penting untuk mempertimbangkan kepraktisan desain. Untuk setiap warna tambahan yang dimiliki logo, ada tambahan biaya setiap kali mereproduksi sesuatu yang memakai logo tersebut. Terutama yang berkaitan dengan cetak seperti kartu ucapan, t-shirt, brosur, banner, kemasan atau apa saja. Setiap jasa percetakan atau proses produksi massal akan memiliki biaya tambahan untuk warna tambahan.
Kesederhanaan sangat diperlukan pada sebuah logo, selain kesederhanaan bentuk juga kesederhanaan warna. Hindari pemilihan warna-warna yang susah dicetak kecuali memang sudah menjadi kesepakatan bersama dengan menerima konsekuensi yang ada. Warna-warna yang susah dicetak tersebut misalnya warna emas, perak, warna spot yang menyala, dan sebagainya.
e.        Fleksibilitas Ukuran
Logo yang baik adalah logo yang fleksibel saat ada perubahan ukuran, terutama ukuran yang kecil. Banyak logo yang bagus tapi jika ditampilkan di media yang menuntut logo tersebut diperkecil logo tersebut tidak terbaca tulisannya atau tidak jelas detailnya. Sekali lagi kesederhanaan bentuk sangat dituntut dalam pembuatan logo, karena logo nantinya bisa ditampilkan dengan berbagai ukuran dan harus tampil menarik untuk di cetak super besar (ukuran billboard) tapi juga menarik tampil kecil seperti di kartu nama.

f.          Variasi Aplikasi Media
Media cetak dan elektronik sangat beragam dengan standar produksi yang berbeda satu sama lain. Logo dituntut bisa ditempatkan ke semua media tersebut. Khusus media cetak ada banyak sekali teknologi cetak yang berkembang, semuanya membutuhkan perlakuan khusus dalam proses cetaknya. Misalnya sebuah logo sangat bagus bila di cetak untuk brosur, company profile dan poster, tapi belum tentu bagus jika tampil di media sablon kaos, bordir, aplikasi souvenir, teknik emboss hingga stempel. Logo yang baik harus siap di berbagai media, sehingga peran desainer sangat dominan. Desainer harus menyiapkan segala kemungkinan aplikasi logo pada berbagai macam media
Demikian hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam merancang sebuah logo khususnya pertimbangan-pertimbangan teknis cetak. Semakin maju teknologi cetak tentunya akan mengubah hal-hal teknis juga, dan semestinya semakin maju teknologi akan semakin mudah melakukan atau mengaplikasikan ide-ide ke media-media baru. Sebagai desainer tentunya mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut, karena filosofi dasar cetak mencetak adalah; Garbage In Garbage Out, artinya jika dari awal membuatnya tidak baik dicetak dengan teknologi apapun hasilnya juga tidak baik. Tetap semangat dan selalu kreatif.