Thursday, November 23, 2017

Penglihatan Subyektif Terhadap Warna Foto dan Cetakan

Penglihatan Subyektif Terhadap Warna Foto dan Cetakan

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.


Warna merupakan salah satu hal yang penting pada tampilan visual tentang apa saja di kehidupan manusia. Khusus pada dunia fotografi dan cetak mencetak, warna dari image tentu sangat penting keberadaannya, dan dipengaruhi oleh banyak hal.  Salah satunya adalah persepsi terhadap warna oleh orang-orang yang terlibat dengan projek atau karya cetak, mulai dari pencipta image, pengolah image, operator pelaksana cetak, hingga penikmat karya atau costumer.
Permasalahannya, mata dan otak manusia sulit untuk melihat warna-warna secara obyektif. Kecuali membandingkan secara bersebelahan antara gambar di layar monitor, cetakan foto dan subyek aslinya. Memang sulit untuk melihat bagaimana warna menjadi berbeda saat ditampilkan di satu medium ke medium yang lain (dari LCD kamera ke layar komputer ke cetakan foto atau offset). Bahkan hampir tidak mungkin untuk mengukur perbedaan (warna) yang terjadi dengan hanya menggunakan mata.
Subyektifitas persepsi visual warna seharusnya tidak dilihat sebagai hambatan, bahkan bisa dipahami sebagai kekayaan alam dan kebesaran Tuhan. Contoh yang sering terjadi dari hal penciptaan image (fotografi) adalah masalah white balance. Dari dulu media film dan media sensor digital dirancang untuk menginterpretasi warna putih pada kondisi-kondisi tertentu. Cahaya matahari mengandung jauh lebih banyak cahaya biru dibandingkan dengan cahaya dari lampu bohlam dalam ruangan. Obyek-obyek putih pada kondisi pencahayaan yang berbeda-beda ini secara obyektif terlihat lebih biru (pada cahaya daylight), lebih merah (pada cahaya lampu bohlam), atau lebih hijau (pada cahaya lampu neon), tapi otak manusia dengan kecanggihannya menganggap bahwa obyek putih adalah putih, meski obyek putih itu sebenarnya secara obyektif berbeda.
Pada teknologi sekarang, cahaya dan warna dapat diukur dan dipilah secara obyektif, dan diaplikasikan ke banyak hal, misalnya untuk menciptakan peralatan fotografi, display (monitor dan LCD), dan printer. Tujuannya adalah untuk mengontrol proses dan mengukur secara obyektif bagaimana perbedaan alat-alat ini dan menyesuaikan outputnya dengan tepat, sehingga hasilnya sesuai dengan persepsi visual warna yang diinginkan.


Warna Cahaya Yang Tampak
Matahari menghasilkan sinar yang dibedakan warnanya dalam spektrum sinar tampak dan sinar tidak tampak. Sinar-sinar tidak tampak antara lain: sinar ultraviolet, sinar-X, sinar gamma, sinar kosmik, mikrowave, gelombang listrik, dan sinar inframerah. Sinar tampak meliputi : merah, oranye, kuning, hijau, dan ungu (diketahui sebagai warna pelangi). Warna-warna ini adalah komponen dari cahaya putih yang disebut cahaya tampak (visible light) atau gelombang tampak. Sinar putih yang biasa dilihat (disebut juga cahaya tampak atau visible light) terdiri dari semua komponen warna dalam spektrum di atas - tentu saja ada komponen lain yang tidak terlihat, disebut invisible light.

Kemudian ada fenomena terjadinya warna. Cahaya itu putih, tapi apakah semua benda yang memantulkan cahaya itu berwarna putih? Mengapa apel berwarna merah?



Apel yang dianggap merah sebenarnya tidak berwarna merah. Apel itu terlihat berwarna merah karena komponen apel itu menyerap warna lain selain warna merah, dan menolak/memantulkan warna merah. Jadi, merah yang dianggap berwarna merah justru sebenarnya punya warna apa saja selain mera, seperti merah, kuning, biru dll. Begitu juga dengan benda lainnya.
Apel menyerap warna lain dan memantulkan warna merah sampai ke mata. Tapi apakah merahnya apel yang diliat itu sama? Jawabannya ternyata adalah tidak. Karena warna itu bukan dari bendanya, tapi label yang ditanam ke otak kita sendiri.


Normalnya, ada tiga reseptor warna di mata manusia:
1.        Reseptor yang puncak sensitifnya dengan gelombang berukuran 420-440 nanometer (biasa kita melabelnya dengan nama biru)
2.        Reseptor yang puncak sensitifnya dengan gelombang 534-545 nm (hijau)
3.        Reseptor yang puncak sensitif pada gelombang berukuruan 564–580 nm (merah).
(sumber: wikipedia)
Warna-warni lainnya adalah hasil paduan dari sensitifitas reseptor tersebut. Tiap orang punya reseptor warna yang puncak sensitifitasnya beda-beda dan berbeda-beda pula rentang jangkauan reseptornya. Untuk kasus buta warna adalah salah satu reseptornya nggak bekerja dengan baik. Fakta lain yang menarik adalah semakin mempelajari macam-macam warna, semakin sensitif dalam membedakan warna itu. Seperti seorang desainer atau operator cetak, biasanya mereka mengenal detail warna yang berbeda padahal bagi orang lain warna itu sama saja.
Inilah yang dimaksud penglihatan subyektif manusia. Walaupun nyatanya manusia melihat dunia dengan warna yang berbeda, manusia setuju nama warna-warna dari warna dunia yang dilihat adalah sama dengan kesepakatan bahasa. Bisa dibilang warna itu adalah Ilusi, dan warna hanya ada di dalam kepala kita masing-masing. Karena hal tersebut sering terjadi kegagalan mengenal warna karena kegagalan bahasa/berkomunikasi. Misalnya di budaya Madura, warna hijau tidak ada. Ada orang yang menganggapnya bahwa orang madura tidak bisa melihat warna hijau. Tapi yang terjadi tidak demikian, orang Madura mengungkapkan warna hijau adalah ‘biru daun’ dan warna biru adalah ‘biru langit’.

Aspek-aspek Penggunaan Warna
Warna adalah hasil cahaya yang terbentuk dari hue (corak warna), intensity (intensitas warna) dan saturation (kejenuhan warna atau intensitas hue). Manusia dengan penglihatan warna normal mampu membedakan sekitar 128 warna yang berbeda. Warna tersebut membuat manusia mampu membedakan satu objek dengan objek yang lain, sehingga dapat terbantu dalam mengolah data menjadi informasi. Tetapi tidak ada standar acuan resmi tentang penggunaan warna yang bagus, karena karakteristik orang per orang berbeda dalam hal persepsi tentang warna. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penggunaan warna antara lain :

1. Aspek Psikologi
Warna yang tajam secara simultan dapat memengaruhi kondisi psikologi manusia. Misalnya warna cyan, biru dan merah tidak dapat dilihat secara serempak, karena dapat menyebabkan mata menjadi lelah. Kemudian ada anjuran untuk menghindari warna biru untuk teks, garis tipis dan bentuk yang sangat kecil, karena mengakibatkan mata kita tidak dapat melihat objek yang terperinci/kecil, dan tajam. Hindari juga warna merah dan hijau untuk tampilan yang berskala besar, tetapi gunakan warna biru dan kuning. Contoh lain adalah pengaturan cahaya di dalam ruangan diperlukan karena warna akan berubah ketika cahaya berubah.
2. Aspek Persepsi
Tampilan Monitor atau cetakan dapat diterima atau tidak oleh pengguna sangat bergantung pada warna yang digunakan. Warna dapat meningkatkan interaksi hanya jika implementasinya mengikuti prinsip dasar dari penglihatan warna oleh manusia. Tidak semua warna ini mudah dibaca. Secara umum latar belakang dengan warna gelap akan memberikan kenampakan yang lebih baik (informasi lebih jelas) dibanding warna yang lebih cerah.
3. Aspek Kognitif
Jangan menggunakan warna yang berlebihan karena penggunaan warna bertujuan menarik perhatian atau pengelempokan informasi, sehingga sebaiknya menggunakan warna secara berpasangan. Selain itu warna yang sama akan membawa “pesan” yang berbeda. Kelompokkan elemen-elemen yang saling berkaitan dengan latar belakang yang sama. Kecerahan dan saturasi akan menarik perhatian user.

Warna pada Foto dan Cetakan
Di  era  fotografi  yang  sudah  serba  digital  ini  aspek  warna  dalam  sebuah  karya  fotografi sangatlah berpengaruh besar, terutama dalam kondisi sekarang lebih terbiasa dengan  fotografi  berwarna dibandingkan fotografi (film) hitam putih. Dalam suatu komposisi fotografi, warna bisa menjadi daya tarik jika dikolaborasikan dengan elemen lain dalam karya foto. Warna menjadikan karya foto bisa memiliki suatu tema atau menciptakan suatu mood tertentu.
Pada dasarnya di dalam fotografi (dan aplikasinya pada cetak), warna sangat berpengaruh pada respon visual manusia, serta dapat menstimulus suatu rasa tertentu. Warna juga dapat menimbulkan rangsangan emosi, sehingga masing-masing pribadi bisa mengemukakan perasaan yang berbeda-beda dalam mengomentari suatu warna. Sering warna dijadikan simbolisasi atau digunakan untuk melambangkan suatu maksud, atau mengidentifikasi sesuatu.
Ditinjau dari sudut pandang psikologi warna, dikenal  tiga  kategori  warna,  yaitu  warna  yang  hangat  (warm),  warna  yang  dingin (cool) dan warna yang netral. Warna dingin merupakan warna yang memberi kesan kesejukan, kedamaian maupun ketenangan, contoh dari warna-warna tersebut, misalnya biru, hijau dan ungu. Warna biru contohnya warna langit siang hari ketika cerah, sedangkan hijau lebih  identik dengan warna hijau daun. Warna hangat (warm color) merupakan  warna-warna  yang  memberikan kesan  hangat,  cenderung  panas,  contohnya  matahari  saat  sore  menjelang  tenggelam  (sunset).  Warna-warna  yang  muncul diantaranya merah, magenta, oren dan kuning yang memberi kesan kehangatan.  Sedangkan warna netral terdiri dari warna putih, hitam, abu-abu. 
Hasil karya seni (dalam hal ini karya fotografi) memang relatif, bagaimana cara orang memandang, dari sudut mana. Para fotografer tentunya ingin orang lain menikmati dan menghargai hasil bidikannya, sehingga fotografer sering menyajikan hasil foto sesuai rasa atau mood yang dirasakan. Misalnya, suasana landscape di lapangan adalah panas terik, cahaya sangat keras, tapi banyak tumbuhan di situ, kemudian fotografer ingin menyajikan suasana itu sebagai kesejukan dengan menampilkan warna hijau segar tumbuhan yang ada. Dalam kondisi tersebut subyektifitas fotografer akan sangat kental untuk menciptakan karya sesuai keinginannya, dan jadilah karya foto yang sejuk dengan menggunakan teknik pengambilan tertentu, dimana kondisi sebenarnya adalah panas terik.
Kemudian pada hasil cetakan juga demikian, foto dan desain akan banyak mempertimbangkan masalah persepsi umum masyarakat. Dalam kehidupan sosial masyarakat kebudayaan tertentu, seringkali kita jumpai kecenderungan penggunaan warna tertentu yang dianggap memberikan keuntungan, rezeki dan kebahagiaan serta kehidupan dan ada pula warna-warna tertentu yang dianggap memberikan kerugian, kesengsaraan dan kesialan, atau kematian. Warna-warna yang dianggap memiliki arti dan makna yang baik akan sering digunakan, sebaliknya warna-warna yang digolongkan buruk akan dihindari, dan apabila digunakan maka penggunaannya pada waku-waktu tertentu saja, atau dalam kaitannya dengan suatu keadaan yang dianggap buruk.
Dengan demikian setiap kebudayaan memiliki definisi dan pengertian mengenai arti dan makna simbolik dari warna seperti tersebut di atas; dalam kehidupan masyarakat seringkali kita jumpai pula bahwa dalam masyarakat tersebut mengembangkan berbagai kebudayaan yang terwujud sebagai sub-sub kebudayaan dari kebudayaan yang dianut oleh sekalian warga masyarakat bersangkutan. Dalam keadaan seperti ini arti dan makna simbolis dari warna bisa saja dalam masyarakat memiliki pengertian yang berbeda-beda tergantung besar-kecilnya kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat bersangkutan.
Akhir kata, warna memang bisa dilihat secara obyektif, diukur, dihitung, dan dirancang. Namun dalam penciptaan sebuah karya visual yang berwarna ada banyak unsur yang tidak habis-habis untuk dibahas. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal, akan selalu terus-menerus belajar dan berubah tentang pemahaman warna. Bahkan ada yang mengatakan warna tidak bisa diartikan secara paten, karena perbedaan budaya akan berbeda pula memaknainya. Hal inilah subyektivitas manusia memberi porsi yang dominan terhadap pemahaman warna, dan itu adalah kreativitas.
Salam kreatif




Saturday, October 14, 2017

Kreativitas Sebagai Kebutuhan Hidup



Kreativitas Sebagai Kebutuhan Hidup

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.


Kreativitas banyak didengung-dengungkan banyak dihubungkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan seni dan keindahan. Untuk bisa menciptakan sebuah karya seni mutlak dibutuhkan kreativitas yang baik dan berkembang. Semakin kreatif seseorang dinilai akan semakin besar kemungkinan mendapatkan karya seni yang hebat. Tapi sebenarnya konsep tentang kreativitas merupakan konsep yang luas dan kompleks sehingga sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan kreativitas tersebut. Berikut dikemukakan definisi kreativitas dari para ahli atau peneliti yang pernah membahas masalah tersebut.
Freedam (1982) mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan untuk memahami dunia, menginterprestasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara yang baru dan asli. Sedangkan Woolfook (1984) memberikan batasan bahwa kreativitas adalah kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan suatu masalah. Guilford (1976) mengemukakan kreatifitas adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir yang produktif, berdaya cipta berpikir heuristik dan berpikir lateral.
Banyak sumber mengatakan bahwa kreatifitas bisa muncul dengan melakukan aktivitas seni, tapi selain itu faktor lingkungan juga mempengaruhi kreatifitas seseorang. Untuk masalah seni, sejak dari kecil diajarkan untuk kreatif membuat seni, misalnya saja saat kecil diajarkan menyanyi, menggambar, dan menari. Pada aktivitas lain juga sudah mengembangkan kreativitas, seperti membuat kerajinan, menata kamar, bermain bersama dengan permainan ata benda mainan, hingga memecahkan masalah. Semua itu merupakan dasar untuk mengasah kreatifitas selanjutnya.

Berfikir Kreatif
Ada beberapa versi yang berbeda-beda tentang apa itu berpikir kreatif antara lain sebagai berikut; Having the ability to create, by originality of thought, showing imagination (menurut: The Newcollins International Dictionary). Kemampuan mental dan berbagai jenis khas manusia yang dapat melahirkan sesuatu yang unik, berbeda, orisinal, baru, indah, efisien, tepat sasaran dan tepat guna. Menurut Goenawan Mohammad, “Kreatif berarti kemampuan atau kondisi untuk menciptakan sesuatu yang baru, dari yang ada dan apa yang tidak ada juga.” Dari beberapa definisi berfikir kreatif tersebut bisa dikatakan saling melengkapi dan mempunyai fokus yang sama, yaitu bertemunya antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Sebagaimana penjelasan dari Mel Rhodes dalam An Analysis of Creativity, seseorang disebut kreatif apabila telah melalui rangkaian 4P.
1.      Person
Karakteristik orangnya sangat berpengaruh, karena kreatif berarti memulai sedini mungkin untuk membiasakan diri kreatif. Orang kreatif  harus berbeda dengan orang lain, tapi perbedaan tersebut harus disertai alasan yang tepat. Rutinitas atau kebiasaan juga mempengaruhi, otak dan tubuh yang dijejali dengan hal-hal yang rutin setiap hari, kreativitas akan susah berkembang. Tetapi, saat otak dan tubuh dimasuki hal-hal baru yang memerlukan daya imajinasi dan kreativitas, maka saraf otak akan terasah dengan optimal dan tubuh akan bereflek cepat.
2.      Process
Kreativitas itu sangat erat dengan proses. Bagaimana teknik atau proses apa yang telah dilaluinya untuk melakukan kreativitas tersebut. Apakah benar-benar menciptakan sesuatu yang baru, memperbaiki yang lama, ataukah justru menjiplak hasil karya orang lain? Jika sampai menjiplak itu bukan hanya tidak kreatif tapi sudah melanggar hak seseorang dan ada hukumnya. Terinspirasi boleh, tetapi meniru persis atau mirip tidak bisa disebut kreatif.
3.       Product
Orang  kreatif adalah mereka yang dapat memberikan solusi, sehingga ada produk yang dihasilkan dan tidak hanya bagus dalam desain, namun juga fungsional dan memberikan kemudahan bagi penggunananya.
4.      Press
Tekanan yang diperoleh saat melakukan serangkaian ketiga proses kreatif di atas ternyata juga diperhitungkan. Jika waktunya sangat sedikit tapi dapat menghasilkan kreasi yang baik, maka tingkat kreativitas orang tersebut layak diacungi jempol.

Ruang Lingkup Berfikir Kreatif
Kreativitas tidak saja tentang seni dan desain, tapi segala hal tentang kebaruan dan aktivitas hidup sehari-hari. Segala hal yang memenuhi kriteria-kriteria di atas adalah kreativias. Kemudian kreatifitas hendaknya ditinjau dari perspektif yang luas, seperti yang dapat diterjemahkan oleh Umi Pujihastuti (1996) yaitu:
  1. Kemampuan memenuhi tuntutan profesi.
  2. Menciptakan kemungkinan dan terobosan-terobosan baru.
  3. Menyelesaikan masalah atau problem
Sedangkan menurut D. H. Weiss (1990) ruang lingkup berfikir secara artistik yang banyak memanfaatkan otak kanan adalah dengan memulai asumsi dengan :
  1. Dapatkah kita mengerjakan segala sesuatu dengan cara baru.
  2. Menggantikan apa yang kita lakukan dengan sesuatu yang lain.
  3. Meminjam atau mengadaptasi apa yang dilakukan orang lain.
  4. Memberikan sentuhan baru dengan cara lama.
  5. Melakukannya dengan cara terbaik.
Semua akhirnya kembali kepada naluri kita, jika ide itu dapat menghasilkan manfaat dan kita merasakan adanya sentuhan kreatif. Karena tidak jarang atau seringkali sikap kreatif tidak bisa dinikmati orang lain.

Macam-macam Kreativitas
Ros Taylor mengatakan bahwa ada 4 jenis gaya kreativitas yang berkaitan dengan fase dari awal ide tercipta sampai dilaksanakan.
Berikut gaya kreativitas tersebut:
1.        Pengumpul Informasi (Foragers)
Orang dengan gaya kreativitas ini diperlukan pada awal mula terbentuknya ide, atau bahkan saat belum ada ide. Mereka adalah orang-orang yang suka mengumpulkan informasi. Dengan melihat trend yang terjadi saat ini di masyarakat, mereka bisa menemukan kesempatan untuk berkarya atau membuat usaha. Mereka juga senang memperhatikan perusahaan kompetitor atau perusahaan di luar negeri yang sejenis dengan usaha mereka, untuk mencari tahu apa kekurangan yang masih dimiliki orang lain agar mereka bisa menyediakan produk yang lebih baik.
2.        Pengembang Ide dan Kesempatan (Explorers)  
Orang dengan gaya kreativitas ini memiliki peran untuk mengembangkan ide saat ada kesempatan usaha. Pada orang-orang inilah biasanya ide akan meledak menjadi berbagai bentuk. Mereka akan menjawab suatu kesempatan usaha dengan berbagai bentuk ide karya. Berbagai macam informasi dapat mereka integrasikan untuk membuat suatu produk baru. Di tangan mereka, desain produk biasanya akan mulai terbentuk.
3.        Pemersatu Konsep (Synthesizers)           
Orang dengan gaya kreativitas ini memiliki kompetensi untuk menyempurnakan desain dari karya yang akan dihasilkan. Di tangan orang-orang ini, desain produk akan disesuaikan dengan kenyataan dan kebutuhan masyarakat. Ide yang terlalu mahal untuk direalisasikan akan dicarikan alternatif yang lebih masuk akal.  Fitur-fitur yang tidak terlalu diperlukan masyarakat akan dihilangkan untuk menjaga harga jual agar tidak terlalu tinggi. Mereka juga biasanya akan menemukan dan memperbaiki error yang biasanya terlewatkan (atau masuk kategori “dibuang sayang”) oleh para Eksplorator.
4.        Pelaksana Rencana (Disseminators)      
Mereka dibutuhkan untuk mengawal proses produksi. Saat prototype produk sedang dibuat, para Disseminator akan mencobanya untuk melihat apakah produknya sudah layak jual. Jika belum, merekalah ahlinya dalam hal modifikasi tahap akhir.
Mereka adalah orang-orang yang dapat diandalkan untuk mengambil keputusan dan memberikan solusi. Mereka juga biasanya yang mengawasi orang-orang dari gaya kreativitas sebelumnya agar bekerja dalam deadline yang disepakati agar karya yang dibuat dapat diluncurkan tepat waktu.

Kreativitas dalam Desain Grafis dan Cetak
Sebagai contoh masalah krativitas di kehidupan sehari-hari adalah profesi Desainer Grafis. Seorang desainer grafis yang berkecimpung dalam dunia kreatif tentulah berkeinginan agar dunia desain grafis mendapatkan apresiasi dan pengakuan yang layak dari masyarakat luas sebagai suatu ilmu, keahlian, dan juga profesi. Desain grafis adalah pekerjaan yang membutuhkan proses dan keahlian seperti halnya pekerjaan lainnya. Dan prosesnya pun bisa sangat panjang dan membutuhkan kreativitas tinggi untuk mengeksekusinya menjadi sebuah visual yang baik, unik, mempunyai nilai seni, dan sesuai kaidah. Penguasaan software memang sudah kewajiban bagi desainer jaman sekarang, tapi itu berfungsi hanya untuk mengeksekusi sebuah karya/ide, dan itu sebagian dari proses di antara banyak proses lainnya. Memang menjadi desainer lebih baik juga pintar menggambar secara manual, dan kemampuan menggambar itu adalah nilai plus dari profesi ini, walaupun tidak wajib untuk memiliki skill menggambar.
Pada dasarnya tugas desainer grafis adalah berkomunikasi menyampaikan pesan kepada orang lain/khalayak dengan media visual/gambar. Orientasi utama yang dilakukan adalah mengkomunikasikan sebuah pesan visual secara efektif, dan dianggap berhasil jika membuat karya desain dengan baik dan pesan sampai kepada yang dituju. Jadi titik fokusnya lebih pada memberikan solusi kepada klien, bukan pada egoisme dan idealisme diri. Desain grafis ditujukan agar audiens tergerak untuk melakukan apa yang diinstruksikan dalam sebuah karya, bukannya membuat target audiens terbengong mengagumi indahnya. Itulah mengapa profesi desainer grafis diharuskan punya kemampuan untuk berkreasi dan menjadi kreatif. Desainer Grafis harus terus menjaga nyala semangat kreativitasnya, selain itu juga kerja keras, ketekunan, dan hasrat yang sangat tinggi untuk terus maju dan memberikan yang terbaik dalam berkarya.
Ada dua sudut pandang tentang Desain Grafis pada praktek lapangan:
Pertama dari sudut pandang Klien, terkadang klien dari kalangan orang awam tidak mengerti dan tidak dapat membedakan antara Desainer Grafis dan Tukang Setting. Mereka hanya melihat orang bisa mengoperasikan software grafis dianggap sebagai Desainer Grafis. Seperti halnya orang yang mempunyai kamera berarti bisa memotret dengan baik. Dianggapnya membuat desain adalah simple (karena karya akhirnya terlihat simple), mereka melihat membuat desain adalah perkara mudah. Namun, mereka tidak sadar bahwa terlihat mudah dalam mengerjakannya karena seorang desainer itu telah memasuki level spesialis. Seperti halnya dokter spesialis, pasti telah melalui segala proses hidup dan kehidupannya. Klien awam terkadang tidak mau tahu, proses kreatif yang dijalankan desainer grafis. Mereka kebanyakan menginginkan cepat, bagus, murah, bahkan gratis.
Kedua dari sudut pandang Desainer Grafis, mestinya seorang desainer grafis ideal adalah seperti yang dijelaskan di atas. Seorang desainer yang baik dituntut mempunyai product knowledge yang baik, termasuk memahami persoalan-persoalan kontemporer jika ia hendak menciptakan suatu projek desain. Namun fenomena tentang kurang dihargainya karya desain banyak disebabkan oleh desainer grafis itu sendiri, dengan mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dengan tarif yang tidak ada aturan bakunya. Di sisi lain mereka puas dengan hal-hal teknis, baik dengan hand drawing maupun digital. Mereka belum mampu melepaskan diri dari kesenangan pada hasil visualnya saja. Idealnya; desainer jelas harus mampu melampaui aspek teknis visual, karena posisinya adalah sebagai seorang kreator, konseptor, bukan lagi seorang tukang desain.

Kreativitas Merupakan Kebutuhan
Manusia dalam hidupnya selalu berusaha memenuhi kebutuhannya yang beragam melalui usaha dan tentunya bantuan orang lain. Namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan, selalu muncul berbagai permasalahan, yang salah satu di antaranya adalah semakin menipisnya persediaan sumber daya alam yang ada. Hal ini telah mendorong setiap orang untuk melakukan tindakan kreatif dan berinovasi dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Berpikir kreatif dalam memecahkan masalah akan selalu muncul selama hidup. Masalah itu ada seiring dengan kebutuhan dan kehidupan, sehingga harus selalu menyikapi masalah-masalah tersebut. Dalam hal ini, kreatifitas sangat membantu dalam memecahkan masalah yang sulit sekali diselesaikan. Dan dengan kreatifitas bisa memecahkan masalah-masalah tersebut dengan cepat. Banyak masalah-masalah yang memerlukan kreatifitas, tidak hanya masalah dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga masalah-masalah dalam bisnis, karir, pelajaran, dan lain-lain. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara bervariasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan. Dari potensi kreatifnya, seseorang dapat menunjukkan hasil perbuatan, kinerja/karya, baik dalam bentuk barang maupun gagasan secara bermakna dan berkualitas.
Diperlukan kemampuan berfikir kreatif untuk dapat mempertahankan hidup. Juga bagi mereka yang ingin bergerak serta hidup dalam gelombang perubahan yang cepat saat ini. Kreatifitas tidak hanya dimiliki oleh orang yang berprofesi seniman, kreatif adalah hak untuk semuanya, kaya, miskin, tua, muda, entrepreneur, akuntan, tentara, hingga pengangguran. Sebenarnya tidak manusia yang tidak kreatif, karena sejatinya kreatifitas sudah mengendap di setiap insan manusia, tetapi malu, malas, atau bahkan takut mengungkapkan atau merealisasikan ide-ide yang dipikirkan.
Selamat datang di belantara dunia kreatif. Dunia di mana kreativitas menjadi bahan bakar utamanya. Dunia di mana imajinasi, ide-ide, dan keberanian untuk bereksperimen menjadi modal utama. Selamat berkreativitas, dan jadikanlah Indonesia ini lebih baik dengan karya kreatif.



Wednesday, August 23, 2017

Mengenal Dynamic Range



Mengenal Dynamic Range pada Kamera Digital dan Aplikasinya pada Cetak

Oleh: Yulius Widi Nugroho, S.Sn, M.Si.


Perkembangan teknologi fotografi memunculkan istilah-istilah baru pada dunia dunia fotografi, salah satunya adalah Dynamic Range. Dynamic Range dalam fotografi dapat didefinisikan sebagai cakupan luminance (pencahayaan) dari suatu pemandangan yang difoto. Dynamic range juga dikaitkan dengan range intensitas sensor kamera dalam merekam gambar, baik di area shadow maupun highlight.
Untuk menjelaskan lebih lanjut, perlu kiranya mempelajari sedikit sejarah fotografi. Pada era fotografi manual dahulu ada istilah Zone System yang mendasari konsep Dynamic Range, yaitu sebuah teknik fotografi untuk mengoptimalkan exposure film. Zone System ditemukan oleh Ansel Adam dan Fred Archer pada Tahun 1841 bertujuan memberikan metode yang sistematik untuk melihat hubungan langsung antara subyek langsung yang dilihat oleh mata dengan hasil yang akan diperoleh dari hasil foto. Juga dapat memberi gambaran hubungan langsung antara visualisasi dengan dengan hasil cetak foto. Pada awalnya konsep ini hanya digunakan untuk film Black & White saja, namun kedepannya konsep ini dapat pula di implementasikan dalam fotografi digital yang terus berkembang sekarang ini.
Zone system memberikan gambaran sederhana untuk memprediksi hasil dari jangkauan yang berbeda antara dunia nyata, film dan hasil cetakan dengan digambarkan sebagai gradasi berkesinambungan dari hitam ke putih sebagai berikut.




Kemudian dari gradasi tonal tersebut dibagi menjadi 11 bagian tonal kemudian beri nomor untuk masing2 tonal tersebut.


Ada tiga macam zone didalam zone system yaitu:
  1. Low Values.
·         Zone O Hitam pekat, tidak ada gunanya dalam negatif, kecuali untul log film.
·         Zone I Hitam total pada cetakan, sedikit memiliki tonal, namun tidak memiliki tekstur.
·    Zone II Memiliki tonal yang pekat, mewakili bagian tergelap dalam foto, masih memiliki sedikit detil yang dibutuhkan.
·     Zone III mewakili rata-rata material berwarna gelap, menampilkan sedikit sekali tekstur.
  1. Middle Values.
·      Zone IV rata-rata tanaman gelap, batu gelap atau daerah bayangan pada foto landscape. Bayangan yang normal pada kulit orang kaukasian.
·   Zone V Middle Gray(18 % refleksi), warna langit utara yang cerah jika dengan menggunakan pankromatik film, kulit gelap, batu abu-abu, dan kayu-kayuan.
·     Zone VI Kulit orang kaukasian dibawah sinar matahari, mendifuse cahaya matahari atau buatan, batu berwarna terang, bayangan disalju.
  1. High Values.
·     Zone VII kulit yang sangat cerah, obyek abu2 terang, rata-rata warna salju dengan cahaya dari samping.
·         Zone VIII Putih dengan tekstur, tekstur dari salju, dan highlight dari orang kaukasian.
·       Zone IX putih mendekati warna putih murni, hanya sedikit sekali memiliki tekstur, dan kalau dicetak akan sama dengan Zone X tidak bisa dibedakan
·         Zone X adalah putih murni, bagian bercahaya pada gambar.

Zone System masih diperlukan dalam fotografi modern adalah tentang kemampuan film, kertas foto dan sensor cahaya yang mempunyai kemampuan terbatas dalam hal jangkauan tonal yang dapat dihasilkan dan direkam. Seorang fotografer pada masa itu hanya dapat melipat gandakan brightness dari kertas foto sampai 9 stop sebelum kertas berhenti menampilkan perbedaan antara satu zone dengan zone lainnya. Dengan kata lain jangkauan dinamik (Dynamic Range) dari kertas foto saat itu hanya memiliki 9 stop. Untuk saat ini kertas foto mampu menampilkan perbedaan stop lebih dari 9 stop. Kemampuan perbedaan stop ini yang memungkinkan fotografi jaman sekarang lebih mampu menampilkan detil dan bayangan. (*catatan: “stop” dalam fotografi adalah mengubah jumlah cahaya dari nilai shutter speed, diafragma, atau ISO sehingga mempengaruhi exposure foto).
Dari Zone System inilah Dynamic Range dikembangkan pada era digital sebagai rasio dari tingkat terang maksimum yang bisa ditangkap sensor dibanding dengan tingkat minimumnya.

 
(sumber: http://www.infofotografi.com)

Dynamic range (DR) artinya rasio dari tingkat terang maksimum yang bisa ditangkap sensor, dibanding dengan tingkat minimumnya (gelap). Untuk melihat dynamic range sensor secara aktual bisa dilihat dari histogram dari foto yang sudah diambil (misalnya dari menu ‘level’ pada Photoshop). Histogram merupakan grafik sebaran terang gelap dari setiap piksel dalam rentang paling gelap (di sebelah kiri) dan paling terang (sebelah kanan). 
 


(sumber: http://www.infofotografi.com)

Teknologi fotografi selalu mengacu pada mata manusia. Mata manusia bisa menangkap 24 stop sehingga memiliki dynamic range yang sangat luas dan dapat membedakan area yang gelap dan terang dengan kecepatan dan tingkat akurasi yang mengagumkan. Sedangkan kamera digital rata-rata hanya bisa menangkap 8 stop. Sensor kamera memiliki sudut pandang yang jauh lebih sempit dan harus berjuang untuk merekam detail area gelap dan terang secara bersamaan. Oleh karena itu, jika ada perbedaan cahaya yang kontras pada objek foto yang diambil, kamera tidak akan dapat merekam seluruh area dengan sempurna sehingga ada bagian gambar yang hilang karena terkena under atau over exposure.
Fungsi dari dynamic range itu adalah untuk mengatur contrast. Nilai dynamic range kecil cocok untuk merekam kondisi saat dalam ruangan atau dibawah mendung yang rata/flat, dan menaikkan nilai dynamic range untuk pengambilan foto pada saat contrast terlalu tinggi, misalnya pada saat panas terik, dimana kontras gelap-terang menjadi sangat tinggi. Dengan menaikkan nilai dynamic range, detail pada bagian shadow/bayangan dan pada bagian highlight akan lebih nampak.

Dynamic range beberapa perangkat umum
Perangkat
Stop

 LCD
9.5

 Film negatif
13

 Mata manusia
10–24

 Kamera DSLR
14.4


Masalahnya adalah beberapa kamera tidak ada settingan dynamic range ini, dan perlu diingat pula bahwa pada kamera yang ada fitur dynamic range masih ada pembatasan penggunaannya, misalanya dynamic range 400% hanya bisa diaktifkan saat settingan ISO lebih dari 800. Beberapa kamera (high end) juga memungkinkan pengambilan satu frame dengan beberapa nilai dynamic range yang berbeda, yang disebut braketing-dynamic range.


Kemudian timbul pertanyaan; Apakah kita bisa mengatur exposure untuk meningkatkan dynamic range pada foto? Tidak. Exposure pada kamera hanya memberi dampak pada keseluruhan brightness foto, dan memungkinkan fotografer menggeser histogram ke kiri atau kanan (highlight atau shadow) agar tidak kehilangan detail. Tapi sekali lagi tidak bisa meningkatkan atau menurunkan dynamic range itu sendiri.
Cara lain untuk dapat menghasilkan image dengan tonal range yang optimal adalah dengan menggunakan teknik post processing. Ada dua teknik dynamic range dalam fotografi yang umum dilakukan untuk menghasilkan foto dengan dynamic range yang lebih tinggi. Teknik tersebut adalah teknik High Dynamic Range (HDR)
High-dynamic-range adalah serangkaian teknik yang digunakan dalam pemotretan untuk mereproduksi sebuah jangkauan pencahayaan dinamis yang lebih besar dibanding menggunakan teknik fotografis standar. Kamera non-HDR hanya bisa mengambil gambar dengan jangkauan pencahayaan terbatas, hasilnya kurang detail pada area gelap atau terang. Sementara teknik HDR mampu menutupi kekurangan ini dengan mengambil banyak foto pada tingkat pencahayaan berbeda dan menggabungkannya untuk menghasilkan foto dengan jangkauan tone yang lebih luas.
Foto-foto HDR umumnya diperoleh dengan menangkap banyak foto, menggunakan exposure bracketing, dan kemudian digabungkan (merge) menjadi gambar HDR. Foto-foto digital sering disandikan dalam format gambar raw kamera, karena penyandian JPEG 8 bit tidak menyediakan transisi tajam (dan menampilkan efek yang tidak bagus jika dikompres). Tapi sering juga foto HDR diperoleh dari hasil editing komputer seperti contoh.


Foto HDR hasil editing komputer (foto karya penulis)
Fungsi HDR semata-mata adalah untuk meningkatkan kualitas hasil pengambilan gambar pada situasi-situasi tertentu, jadi fitur ini sebenarnya tidak dapat digunakan pada semua situasi. Situasi terbaik untuk menggunakan fitur HDR ini adalah saat mengambil gambar landscape, mengambil gambar pemandangan yang dilakukan diluar ruangan biasanya memiliki banyak kontras antara langit dan tanah, yang sebenarnya situasi ini sulit untuk kamera karena langit biasanya terlalu terang sehingga tanah akan tampil terlalu gelap.
Situasi lainnya adalah jika cahaya terlalu berlimpah, dan cahaya terlalu kurang. Kondisi cahaya yang terlalu keras masuk ke sensor kamera terlalu kuat, biasanya dapat menyebabkan wajah seseorang yang menjadi objek foto tersebut menjadi gelap atau terlalu terang sehingga jumlah detail yang terekam tidak maksimal. Fitur HDR camera dapat memaksimalkan kualitas hasil foto pada situasi ini. Kebalikannya saat kondisi cahaya yang kurang atau cahaya dari belakang terlalu kuat, biasanya hasilnya terdapat bagian-bagian yang hitam pekat atau detail dibagian tersebut tidak tertangkap.
Terakhir, bagaimana aplikasi foto HDR untuk keperluan cetak foto? Seperti artikel-artikel sebelumnya di Majalah Print Media ini, kita telah sedikit banyak membahas tentang Kualitas Foto dan Color Range untuk keperluan cetak mencetak. Pada dasarnya untuk keperluan cetak selalu mengacu prinsip atau filosofi cetak, yaitu Gabage In Garbage Out (GIGO). Jika kualitas asli gambar bagus maka hasil produksi cetak juga bagus, dan begitu pula sebaliknya bila yang diolah sampah (gambar yang kurang baik kualitasnya) maka hasil produksinya bisa dipastikan juga akan terlihat kurang baik.
Dinamic Range pada dasarnya bawaan dasar setiap gadget (kamera digital, scanner, komputer, dsb.), bila kamera tidak bisa menangkap tonal gelap terang warna objek dengan baik, maka hasil cetak pun akan mengikuti foto asalnya. Singkat kata, Dinamic Range merupakan masalah dapur penciptaan foto awal yang dipengaruhi kemampan alat atau editing komputer oleh pencipta fotonya (fotografer). Untuk masalah cetak mencetak ada standarisasi sendiri untuk membuat foto tersebut dapat dicetak sesuai keinginan fotografer.
Mesin cetak / printer akan memberikan output sesuai gambar asli, namun mesin cetak dan printer mempunyai Color Range dan Impresi yang berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing. Fotografer mau tidak mau harus memahami karakter mesin cetak/printer; misalnya hasil cetak dengan kertas foto (di lab foto) jelas berbeda dengan digital printing yang dengan berbagai macam teknologi (laser, digital offset, ink jet, dsb.), beda lagi dengan teknologi cetak konvensional (offset, gravur, flexo, dan sablon). Misalnya Color Range printer 8 warna jelas akan memberikan tonal warna yang lebih baik daripada mesin cetak 4 warna.
Semua teknologi tersebut mempunyai karakter sendiri-sendiri dan fotografer hendaknya memahami teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhannya. Hal-hal tersebut akan banyak dipelajari lebih dalam dengan Color Management yang komplek. 

(*dari berbagai sumber)
Salam Kreatif