Sunday, August 17, 2014

Mengenal Lampu Kilat (flash) Fotografi



Lampu Kilat Fotografi
oleh: Yulius Widi Nugroho


Sekilas sejarah lampu kilat (flash)
Fotografer jaman dulu menemukan solusi pencahayaan dengan membakar serbuk magnesium untuk menghasilkan kilatan cahaya terang . Namun ini mempunyai resiko akan menghasilkan asap yang cukup menganggu, belum lagi kerumitan penanganannya
Tahun 1893, Chauffour (Prancis) membuat bohlam yang diisi dengan pita magnesium dan gas oksigen (flashbulb) untuk digunakan dalam pemotretan bawah air. Di tahun 1925 disempurnakan Vierkotter (Austria), dilanjutkan oleh Ostermeier (Jerman) 1929 yang memasarkan flashbulb yang diisi dengan lembaran aluminium.
Lampu kilat modern memakai tabung lampu kilat (flashtube) yang berisi gas krypton dan xenon. Barulah di tahun 1939 Harold Edgerton (Amerika) memperkenalkan unit lampu kilat elektronik yang dikembangkan sampai sekarang.
Hal mendasar yang membedakan flashbulb dengan flashtube adalah durasi (lamanya) cahaya yang terpancar dari kedua unit tersebut. Durasi  flashtube mampu menghasilkan kilatan cahaya antara 1/300 (0,003) hingga 1/5.000 (0,0002) detik (untuk tipe-tipe tertentu bahkan hingga mencapai 1/1.000.000 detik!). Sedangkan flashbulb berkisar antara 8 milidetik (0,8 detik) hingga 45 milidetik (4,5 detik).
Gambar: Lampu Flashbulb (kiri) dan Flashtube (kanan)
Karakter dari lampu flash adalah cahaya uncontinuous atau cahaya kilat (5600oK) dengan demikian dibutuhkan kecepatan yang pas atau sering disebut kecepatan sinkron dalam menangkap cahaya dari flash.
Biasanya kecepatan maksimal shutter speed adalah 200 atau ada yang sampai 250 (tergantung flash dan kamera). Lampu flash dinilai praktis, tapi kelemahannya adalah intensitas dan jatuhnya cahaya relatif sedikit rumit dikontrol, keras atau selembut apa cahaya itu akan jatuh jika tidak dilakukan tes juga sangat sulit diprediksi.
Electronic Flash Head atau lampu flash studio adalah lampu yang menyalurkan gas seketika dan memproduksi cahaya berdurasi singkat atau kilat.
Lampu flash ada dua macam, yaitu flash yang biasa dipasang di body kamera dan bisa dibawa kemana-mana, dan flash yang terpisah dengan kamera dan diletakkan pada stand studio foto.
Gambar: Studio Flash (kiri) dan Flash Gun (kanan)

Jenis-jenis lampu kilat:
  1. Manual : Tipe lampu kilat yang paling sederhana. Lampu kilat ini menghimpun daya dari baterai dalam elektro kondensator (elko) untuk kemudian dilepaskan seluruhnya dalam bentuk kilatan melalui flashtube (karena itu, setiap kali lampu kilat jenis ini melepaskan cahayanya, ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengisi kembali tegangan listrik elko). Tidak mempunyai fasilitas pengatur intensitas cahaya internal sehingga pencahayaannya murni diatur oleh diafragma lensa. Secara sepintas, jenis ini mudah dikenali dengan hanya menyertakan tombol on/off dan lampu indikator serta hanya mempunyai satu kontak listrik di telapak hotshoe.
  2. Semi auto (Thyristor) : Disebut juga dengan auto. Pengembangan dari lampu kilat manual dengan menempatkan sensor pemantau kilatan cahaya (thyristor) di bagian muka lampu kilat. Unit ini berfungsi sebagai pemutus aliran listrik dari elko menuju flashtube ketika ia mendeteksi pantulan cahaya yang dilepaskan lampu kilat. Tidak dianjurkan penggunaannya dalam jarak lebih dari 3 meter (karena wilayah sensitivitas sensor thyristor terlalu lebar sehingga dapat tertipu oleh warna/kecerahan latar belakang).
  3. TTL (Through The Lens) : Lampu kilat jenis ini mengandalkan sensor internal kamera sebagai kendali pencahayaannya. Tentulah kamera yang dipakai haruslah kamera dengan kemampuan TTL untuk lampu kilatnya. Jenis ini lebih akurat karena cahaya lampu kilat yang terukur hanyalah cahaya yang masuk melalui lensa kamera yang bersangkutan. Bila dilihat dari tapak hotshoe-nya, lampu kilat jenis ini mempunyai 3 atau lebih kontak listrik.

Guide Number
Pada lampu flash dikenal istilah GN (Guide Number) yaitu angka pedoman yang mengindikasikan kekuatan lampu flash.
Sebagai dasar sifat lampu flash yaitu, semakin jauh jarak objek dari lampu flash akan semakin lemah daya pancar cahaya flash yang diterima objek, juga bila sudut sebaran cahaya flash semakin melebar maka jangkauannya pun akan semakin berkurang dan demikian juga kebalikannya.
Gambar: Hukum kuadrat terbalik lampu flash
Cahaya dari flash jatuh pada jarak tertentu. Ketika jarak dijauhkan dua kali lipat, akan mendapatkan seperempat intensitas banyaknya cahaya. Hubungan ini disebut hukum kuadrat terbalik (inverse square law)
Dengan menggunakan GN akan dapat lebih mudah menyesuaikan diafragma dengan jarak antara objek dan kamera/lampu flash.
Angka GN standar didapatkan dari perkalian angka diafragma dan jarak (dalam meter) pada ISO 100 dan pada sudut sebar sesuai lensa 50mm atau 35mm
Berikut rumus sederhana GN;
 GN = diafragma x jarak
 Rumus diatas diasumsikan bahwa kecepatan rana yang dipakai sama dengan atau dibawah sinkron flash.
 Diafragma = GN / Jarak
 Rumus diatas sangat umum dipakai untuk menemukan bukaan diafragma dalam pemotretan dengan lampu flash.
Jarak = GN / Diafragma




Contoh Penggunaan Guide Number
Guide Number
F-Stop
Flash to Subject Distance
Calculation
40
f/4
10 feet / 3 meters
GN = 10 ft. x f/4 = 40
80
f/4
20 feet / 6 meters
GN = 20 ft. x f/4 = 80
120
f/4
30 feet / 9.1 meters
GN = 30 ft. x f/4 = 120
160
f/4
40 feet / 12.2 meters
GN = 40 ft. x f/4 = 160


Ada beberapa pilihan mode pada lampu flash pada kamera. Pengaturan ini ada pada flash yang mempunyai berbagai macam fasilitas.
  1. Mode Normal/Auto, yaitu flash mengatur intensitas secara automatis sesuai kompensasi eksposur kamera. Mode ini membatasi shutter speed paling lambat 1/60 detik (kecepatan sinkron). Kecepatan sinkron default itu masih dapat diubah di menu custom setting, misalnya menjadi 1/30 atau ½ detik.
  2. Mode Slow, yaitu untuk menampilkan pencahayaan sekitar objek dan merekam gambar dengan kecepatan lebih lambat dari 1 detik. Jika kecepatannya setara dengan sinkron, mode ini sama saja menggunakan mode auto.
  3. Mode Rear, yaitu flash menyala setelah tombol rana ditekan, flash baru menyala sesaat sebelum rana tertutup sehingga menimbulkan efek objek tampak bergerak secara natural, tidak bergerak mundur.
Gambar: Mode Normal (atas) dan Mode Rear (bawah)

Mode Normal (atas) lampu kilat menyala pada awal ekspose, kemudian merekam cahaya sekitar. Akibatnya, garis-garis cahaya dari subjek bergerak akan muncul di depannya.

Mode Rear (bawah) lampu kilat menyala pada akhir ekspose, setelah merekam cahaya sekitar, sehingga garis-garis jejak cahaya muncul di belakang subjek.

Red Eye
Red Eye terjadi karena cahaya dari flash telah masuk melalui pupil subjek dan terpantul dari belakang mata (retina) dan kembali keluar ke kamera. Sejak retina dipagari dengan pembuluh darah, cahaya yang dipantulkan mengambil warna merah.
Kamera memiliki mode Red-eye reduction mode yaitu dengan menyalakan lampu preflash pendek untuk menutup iris subjek sesaat sebelum lampu kilat sebenarnya untuk mengambil gambar, tapi ini tidak selalu bekerja.
Untuk menghilangkan mata merah, diperlukan flash eksternal yang diposisikan agak jauh dari sumbu lensa kamera. Jika harus hanya menggunakan built-in flash; zoom lensa diposisikan ke sudut yang lebih luas, mintalah subjek untuk melihat langsung pada kamera, close up, meningkatkan pencahayaan ruangan secara keseluruhan, atau wajah subjek mendapatkan cahaya yang cukup.
Dapat menghapus menghapus mata merah menggunakan software, tapi hasilnya tidak akan maksimal

*dari berbagai sumber

Thursday, July 3, 2014

Berpikir Terbalik Terkadang Lebih Baik

...Berpikir Terbalik untuk Menghadapi Jaman yang Terbalik...
teks & foto oleh: yulius widi nugroho


Berpikir terbalik mungkin belum banyak disinggung dalam menjalani hidup atau bahkan untuk memecahkan masalah, teori ini sesungguhnya sangatlah mudah dipahami, hanya saja banyak orang belum bisa mengambil hikmah dari segala kejadian yang pernah mereka alami.
Melihat sesuatu hal di sekitar kita yang sering terjadi berulang-ulang mendoktrin pikiran seolah kejadian tersebut memang terjadi seperti itu dan tidak bisa terjadi hal yang "lain". Sehingga membuat orang tidak mencoba berani mengambil langkah berbeda, lalu berkesimpulan bahwa; memang seperti itulah kebanyakan yang terjadi dan terus harus gimana lagi? Dan pada akhirnya kita terus menjalani keseharian seperti "biasanya".
Kemudian jika ada orang menjadi bagian dari "minoritas", kita mengganggap mereka aneh, itu karena kebiasaan yang telah membuat kita dengan hidup di dunia "mayoritas". Dan jika diperhatikan dan ditelaah, aneh dan tidak aneh hanya masalah "jumlah".
Berpikir terbalik bisa sebagai modal untuk kreatif dan hebat. Tetapi karena pendekatan ini tidak umum maka banyak orang yang meragukannya. Berikut karya foto saya sebagai ilustrasi ide-ide spontan semoga bisa "membalikkan" anda. Selamat menikmati dan salam fotografi. :D